Anak adalah ibarat kertas kosong putih bersih, yg siap utk ditulisi apa saja. Menurut Kahlil Gibran, anak diibaratkan sbg anak panah dan orang tua diibaratkan sbg busurnya, yg akan melepaskan kemana arah anak panahnya akan dilepaskan. Dengan arah tujuan dan sasaran yg tepat, sang busur melepaskan anak panahnya dengan penuh harap, meski kadang meleset dari sasaran yg dituju.
Anak yatim adalah anak yg ditinggal mati oleh orang tuanya, dan dengan pemahaman diatas, maka anak yatim diibaratkan anak panah yg tidak ada busurnya, sehingga tdk ada yang akan melepaskan kemana arah tujuannya. Anak yatim, cenderung berperilaku negatif, stagnan dan tidak punya arah tujuan yg jelas.
Di dalam ajaran islam, anak yatim sangatlah dimuliakan, sehingga seorang muslim yg menghardik anak yatim saja dapat digolongkan sebagai orang yg Mendustakan Agama, apalagi kalau sampai memukulnya, Subhanallah. Setiap muslim diwajibkan untuk menyantuni dan mengasihi anak yatim, apalagi di bulan2 Muharam seperti sekarang ini, kepedulian umat islam terhadap anak yatim begitu besar.
Rasulullah-pun sangat mencintai anak yatim, hal ini bukan semata-mata karena beliau dilahirkan sbg yatim, tetapi hal ini ditekankan sebagai tanggung jawab pengganti dari orang tuanya, yg dibebankan pada umat islam lainnya.
Berbeda sekali kejadiannya dengan anak-anak yg ditinggal pergi orang tuanya, yg diakibatkan oleh perceraian, sang anak cukuplah dititipkan pada eyang atau simbahnya. Apalagi kalau sang orang tua sudah berumah tangga kembali, mereka akan sibuk dengan urusannya sendiri2, sedangkan sang anak hasil perceraian tadi cukup utk dilupakan. Ada kata-kata yg tersirat, "Selamat Tinggal nak, Carilah jalan hidupmu sendiri, tentukanlah nasibmu atas langkahmu, karena kami tak sempat memikirkanmu".
Anak Yatim SAYANG,
Anak di-yatim-kan MALANG.
Rabu, 06 Januari 2010
TANDA-TANDA AHLUL BID'AH
TANDA-TANDA AHLUL BID'AH
Oleh : Syaikh Dr.Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily
Ahlul bidah memiliki tanda-tanda yang lengkap dan nampak sehingga mereka mudah dikenal. Dalam al-Quran dan haditsnya Allah dan Rasul-Nya telah mengabarkan tentang sebagian tanda-tanda mereka untuk dijadikan peringatan bagi umat dari bahaya mereka dan larangan mengambil jalan hidup mereka. Para Salaf pun telah menerangkan masalah ini.
Saya akan menyampaikan sebagian dari tanda itu yang dengan tanda itu mereka membedakan diri. Sebagai jembatan penolong supaya mengerti tentang mereka Insaya Allah. Termasuk tanda-tanda mereka adalah:
1. BERPECAH-BELAH
Sesungguhnya Allah taala telah mengabarkan tentang mereka dalam al-Quran. Ia berkata ,Janganlah kalian menjadi orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan. Dan mereka mendapatkan adzab yang besar. Ia berfirman,Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka (terpecah-belah menjadi beberapa golongan) tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat ini,Ayat ini secara umum menerangkan orang yang memecah-belah agama Allah dan mereka berselisih. Sesungguhnya Allah mengutus nabi-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar memenangkannya atas semua agama. Syariatnya adalah satu yang tidak ada perselisihan dan perpecahan padanya. Barang siapa yang berselish padanya maka merekalah golongan yang memecah belah agama seperti halnya pengikut hawa nafsu dan orang-orang sesat. Sesungguhnya Allah taala berlepas diri dari apa yang mereka lakukan.
Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa syiar ahli bidah adalah perpecahan,Oleh karena itu al-Firqatun Najiah disfati dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan mereka adalah jumhur dan kelompok terbesar umat ini. Adapun kelompok lainnya maka mereka adalah orang-orang yang nyleneh, berpecah belah, bidah dan pengikut hawa nafsu. Bahkan terkadang di antara firqah-firqah itu amat sedikit dan syiar firqah-firqah ini ialah menyelisihi al-Quan, as-Sunnah serta ijma.
2. MENGIKUTI HAWA NAFSU
Dialah sifat mereka yang paling kentara. Allah taala berkata mensifati mereka, Maka kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.
Ibnu Katsir berkata, Yakni ia berjalan dengan hawa nafsunya. Apa yang dilihat baik oleh hawa nafsunya maka ia lakukan dan apa yang dilihatnya jelek maka ia tinggalkan. Inilah manhaj Mutazilah dalam menganggap baik dan jelak denga logika mereka.
Nabi telah mengabarkan bahwa hawa nafsu tidak akan terlepas dari ahli bidah dalam hadits perpecahan di mana beliau mengatakan,Sesungguhnya ahli kitab terpecah dalam agama mereka menjadi tujuh dua puluh millah dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menadi tujuh puluh tiga millah -yakni hawa nafsu- semuanya di neraka kecuali satu millah yaitu al-Jamaah.
Sesunguhnya akan muncul pada umatku beberapa kaum hawa nafsu mengalir pada mereka sabaimana mengalirnya penyakit anjing dalam tubuh mangsanya. Tidak tersiksa darinya satu urat dan persendian pun kecuali diamasukinya.
3. MENGIKUTI AYAT-AYAT YANG SAMAR
Sifat mereka ini telah Allah kabarkan dalam firman-Nya,…Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang samar untuk menimbukan fitanh dan untuk mencari-cari takwilnya.
Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Aisyah katanya,Rasulullah membaca ayat ini,Dialah yang menurunkan al-quran kepada kamu di antara isinya ada aya-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pkok isi ajaran al-Quran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya ...sampai ayat ... orang-orang yang berakal. Ia berkata, Rasulullah, berkata, Bila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutashyabihat maka merekalah yang Allah namakan sebagai orang-orang yang harus dijauhi.
Dari Amiril Mukminin Umar bin Al-Khathab katanya,Akan datang manusia mendebat kalian dengan ayat-ayat mutaysabihat maka balaslah mereka dengan sunah-sunnah karena Ahlus Sunnah lebih mengetahui akan kitabullah.
4. MEMPERTENTANGKAN SUNNAH DENGAN AL-QURAN
Termasuk tanda ahli bidah adalah mempertentangkan al-Quran dengan sunnah dan merasa cukup mengambil al-quran dalam pelaksanaan hukum-hukum syara sebagaimana yang diberitakan Nabi: Seorang laki-laki hampir bersandar di atas ranjangnya dibacakan haditsku lalu mengatakan,Antara kami dan kalian adalah kitabullah. Perkara halal yang kita temukan padanya maka kita halalkan dan perkara haram yang kita temukan padanya maka kita haramkan. Ketahuilah apa-apa yang Rasulullah haramkam adalah sama dengan apa yang Allah haramkan.
Al-Imam Al-Barbahari mengatakan :Bila kamu melihat seorang mencela hadits atau menolak atsar /hadits atau menginginkan selain hadits, maka curigailah keislamnnya dan jangan ragu-ragu bahwa dia adalah ahli bidah(pengikut hawa nafsu) Beliau berkata:Bila kamu mendengar seorang dibacakan hadits di hadapannya tetapi ia tidak menginginkannya dan ia hanya mengingnkan al-Quran maka janganlah kamu ragu bahwa dia seorang yang telah dikuasai oleh kezindikan. Berdirilah dari sisinya dan tinggalkanlah ia!
Mempertentangkan sunnah dengan al-Quran dan menolaknya bila belum ditemukan pada al-Quran apa-apa yang menguatkan sunnah, termasuk tanda ahli bidah yang paling kentara. Nabi telah mengabarkannya sebelum terjadi dan benarlah beliau. Sekarang apa yang beliau kabarkan telah terjadi. Sungguh kita mendengar dan membaca peristiwa semisal itu dari sebagian ahli bidah pada jaman dulu. Hingga kita melihat salah satu dari ahli bidah dan orang sesat jaman sekarang menghujat kitab shahih Bukhari yang telah disepakati oleh umat ini keshahihannya.Ia yakin bahwa padanya terdapat seratus dua puluh hadits yang tidak shahih yang ia sebut sebagai hadits Israiliat. Ia menghilangkannya dan mempertentangkannya dengan al-Quran kemudian ia bantah dan ingkari. Tampillah seorang tokoh ulama sekarang menentang, meruntuhkan sybuhatnya (kerancuannya), menolak kebatilannya, menampakkan penyimpangan dan kepalsuannya dengan karyanya untuk membantahnya dan orang yang menempuh jalanya, ahli bidah. Semoga Allah membalas amalnya dengan sebaik-baik pembalasan.
5. MEMBENCI AHLI HADITS
Termasuk tanda ahli bidah adalah membenci dan mencela ahli hadits dan atsar. Dari Ahamad bin Sinan al-Qaththan katanya: Dan tidaklah ada di dunia ini seorang mubtadi pun kecuali membenci ahli hadits.
Abu Hatim ar-Razi berkata,Tanda ahli bidah adalah mencela ahli hadits dan tanda orang zindik adalah menamakan Ahlus Sunnah bengis. Dengan sebutan itu mereka menghendaki hilangnya hadits.
6. MENGGELARI AHLUS SUNNAH DENGAN TUJUAN MERENDAHKAN MEREKA
Termasuk tanda mereka adalah menggelari Ahlus Sunnah(yang bertolak belakang dengan sifat mereka) dengan tujuan merendahkan mereka.
Abu Hatim ar-Razi berkata:Tanda Jahmiah adalah menamakan Ahlus Sunnah musyabbahah(menyerupakan Allah dengan mahluk). Ciri-ciri Qadariah adalah menamakan Ahlus Sunnah mujabbirah(mahluk tidak mempunyai kehendak.) Ciri-ciri Murjiaah adalah menamakan Ahlus Sunnah menyimpang dan mengurangi.Ciri-ciri Rafidhah adalah menamakan Ahlus Sunnah nashibah(mencela Ali). Ahlus Sunnah tidak digabungkan kecuali kepada satu nama dan mustahil nama-nama ini mengumpulkan mereka.
Al-Barbahari berkata,Dan orang yang tertutup(kejelekannya) adalah yang jelas ia tertutup(kejelekannya) dan orang yang terbuka kejelekannya adalah orang yang jelas aibnya. Bila kamu mendengar seorang mengatakan fulan Nashibi, ketahuilah bahwa ia adalah Rafidly. Bila kamu mendengar seorang mengatakan fulan musyabbihah atau fulan menyerupakan Allah dengan makhluk, ketahuilah bahwa ia adalah Jahmy. Bila kamu mendengar seorang berkata tentang tauhid dan mengatakan,Terangkan padaku tauhid!, ketahuilah bahwa ia adalah Kharijy dan Mutazily. Atau mengatakan, fulan Mujabbirah atau mengatakan, dengan ijbar atau berkata dengan adilm ketahuilah bahwa ia adalah Qadari karena nam-nama ini bidah yang dibuat-buat oleh ahli bidah.
Syaikh Ismail as-Shabuni mengatakan,Ciri-ciri ahli bidah amat jelas dan terang Sedang tanda-tanda mereka yang paling jelas adalah sangat keras memusuhi para pemilkul hadits, dan menghinakan mereka dan mengelari mereka kaku,bodoh,dhahiri,(tekstual) musyabbihah(golongan yang menyerupakan Allah dengan mahluk). Semua itu didasari keyakinan mereka bahwa hadits-hadts itu masih berupa benda mentah (bukan ilmu). Dan yang dinamakna ilmu adalah ilham yang dijejalkan setan kepada mereka, hasil dari olah akal mereka yang rusak, intuisi hati nurani mereka yang gelap….
7. TIDAK BERPEGANG DENGAN MADZHAB SALAF
Syaikhul Islam berkata,Kelompok-kelompok bidah yang terkenal di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang tidak menganut madzhab salaf antara lain kelompok: Rafidhah, sampai orang awam tidak mengetahui syiar-syiar bidah kecuali rafdl(menolak kepemimpinan khulafaur rasyidin selain Ali). Dan sunni menurut istilah orang awam adalah orang yang bukan rafidhi ….Sehinga diketahui syiar ahli bidah menolak madzhab Salaf. Oleh karena itu dalam risalah yang ditujukan kepada Abdus bin Malik Imam Ahamad berkata,Asas sunnah menurut kami adalah berpegang dengan apa yang dijalani sahabat Muhammad….
8. MEMVONIS KAFIR ORANG YANG MENYELISIHI MEREKA TANPA DALIL
Dalam banyak tempat Syaikhul Islam menyebutkan tentang bantahan terhadap orang yang menvonis orang yang masih belum jelas kekafirannya,Pendapat ini tidak diketahui dari seorang sahabat, tabiin, yang mengikuti mereka dengan baik dan tidak pula dari salah satu imam tetapi ini termasuk salah satu pokok dari pokok-pokok ahli bidah yang membuat bidah dan menvonis kafir orang yang menyelisihi mereka semisal Khawarij, Mutazilah dan Jahmiah.
Beliau berkata,Khawarij,Mutazilah, dan Rafidhah, menvonis kafir Ahlus Sunnah wal Jamaah. Golongan yang belum mereka vonis kafir maka mereka vonis fasik. Demikian juga mayoritas ahlul ahwa menvonis bidah dan kafir golongan yang menyelisihi mereka berdasarkan logika semata.
Akan tetapi Ahlus Sunnah adalah golongan yang mengikuti kebenaran dari rab mereka yang dibawa oleh rasul-Nya,tidak menvonis kafir golongan yang menyelisihi mereka. Mereka golongan yang paling tahu tentang kebenaran dan kondisi manusia.
Syaikh Abdul Lathif bin Abdur Rahman Alu Syaikh ditanya tentang orang yang menvonis kafir sebagian golongan yang menyelisihinya. Beliau menjawab,Jawabannya, Saya tidak mengetahui sandaran ucapan itu. Berani menvonis kafir golongan lain yang menampakkan keislaman tanpa dasar syari dan keterangan yang akurat menyeilisihi manhaj para pakar ilmu agama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Jalan ini adalah jalannya ahlul bidah dan orang-orang sesat.
Sumber : Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama'ah min Ahlil Ahwa wal Bid'ah karya Dr. Ibrahim Ruhaily
Oleh : Syaikh Dr.Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily
Ahlul bidah memiliki tanda-tanda yang lengkap dan nampak sehingga mereka mudah dikenal. Dalam al-Quran dan haditsnya Allah dan Rasul-Nya telah mengabarkan tentang sebagian tanda-tanda mereka untuk dijadikan peringatan bagi umat dari bahaya mereka dan larangan mengambil jalan hidup mereka. Para Salaf pun telah menerangkan masalah ini.
Saya akan menyampaikan sebagian dari tanda itu yang dengan tanda itu mereka membedakan diri. Sebagai jembatan penolong supaya mengerti tentang mereka Insaya Allah. Termasuk tanda-tanda mereka adalah:
1. BERPECAH-BELAH
Sesungguhnya Allah taala telah mengabarkan tentang mereka dalam al-Quran. Ia berkata ,Janganlah kalian menjadi orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan. Dan mereka mendapatkan adzab yang besar. Ia berfirman,Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka (terpecah-belah menjadi beberapa golongan) tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat ini,Ayat ini secara umum menerangkan orang yang memecah-belah agama Allah dan mereka berselisih. Sesungguhnya Allah mengutus nabi-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar memenangkannya atas semua agama. Syariatnya adalah satu yang tidak ada perselisihan dan perpecahan padanya. Barang siapa yang berselish padanya maka merekalah golongan yang memecah belah agama seperti halnya pengikut hawa nafsu dan orang-orang sesat. Sesungguhnya Allah taala berlepas diri dari apa yang mereka lakukan.
Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa syiar ahli bidah adalah perpecahan,Oleh karena itu al-Firqatun Najiah disfati dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan mereka adalah jumhur dan kelompok terbesar umat ini. Adapun kelompok lainnya maka mereka adalah orang-orang yang nyleneh, berpecah belah, bidah dan pengikut hawa nafsu. Bahkan terkadang di antara firqah-firqah itu amat sedikit dan syiar firqah-firqah ini ialah menyelisihi al-Quan, as-Sunnah serta ijma.
2. MENGIKUTI HAWA NAFSU
Dialah sifat mereka yang paling kentara. Allah taala berkata mensifati mereka, Maka kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.
Ibnu Katsir berkata, Yakni ia berjalan dengan hawa nafsunya. Apa yang dilihat baik oleh hawa nafsunya maka ia lakukan dan apa yang dilihatnya jelek maka ia tinggalkan. Inilah manhaj Mutazilah dalam menganggap baik dan jelak denga logika mereka.
Nabi telah mengabarkan bahwa hawa nafsu tidak akan terlepas dari ahli bidah dalam hadits perpecahan di mana beliau mengatakan,Sesungguhnya ahli kitab terpecah dalam agama mereka menjadi tujuh dua puluh millah dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menadi tujuh puluh tiga millah -yakni hawa nafsu- semuanya di neraka kecuali satu millah yaitu al-Jamaah.
Sesunguhnya akan muncul pada umatku beberapa kaum hawa nafsu mengalir pada mereka sabaimana mengalirnya penyakit anjing dalam tubuh mangsanya. Tidak tersiksa darinya satu urat dan persendian pun kecuali diamasukinya.
3. MENGIKUTI AYAT-AYAT YANG SAMAR
Sifat mereka ini telah Allah kabarkan dalam firman-Nya,…Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang samar untuk menimbukan fitanh dan untuk mencari-cari takwilnya.
Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Aisyah katanya,Rasulullah membaca ayat ini,Dialah yang menurunkan al-quran kepada kamu di antara isinya ada aya-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pkok isi ajaran al-Quran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya ...sampai ayat ... orang-orang yang berakal. Ia berkata, Rasulullah, berkata, Bila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutashyabihat maka merekalah yang Allah namakan sebagai orang-orang yang harus dijauhi.
Dari Amiril Mukminin Umar bin Al-Khathab katanya,Akan datang manusia mendebat kalian dengan ayat-ayat mutaysabihat maka balaslah mereka dengan sunah-sunnah karena Ahlus Sunnah lebih mengetahui akan kitabullah.
4. MEMPERTENTANGKAN SUNNAH DENGAN AL-QURAN
Termasuk tanda ahli bidah adalah mempertentangkan al-Quran dengan sunnah dan merasa cukup mengambil al-quran dalam pelaksanaan hukum-hukum syara sebagaimana yang diberitakan Nabi: Seorang laki-laki hampir bersandar di atas ranjangnya dibacakan haditsku lalu mengatakan,Antara kami dan kalian adalah kitabullah. Perkara halal yang kita temukan padanya maka kita halalkan dan perkara haram yang kita temukan padanya maka kita haramkan. Ketahuilah apa-apa yang Rasulullah haramkam adalah sama dengan apa yang Allah haramkan.
Al-Imam Al-Barbahari mengatakan :Bila kamu melihat seorang mencela hadits atau menolak atsar /hadits atau menginginkan selain hadits, maka curigailah keislamnnya dan jangan ragu-ragu bahwa dia adalah ahli bidah(pengikut hawa nafsu) Beliau berkata:Bila kamu mendengar seorang dibacakan hadits di hadapannya tetapi ia tidak menginginkannya dan ia hanya mengingnkan al-Quran maka janganlah kamu ragu bahwa dia seorang yang telah dikuasai oleh kezindikan. Berdirilah dari sisinya dan tinggalkanlah ia!
Mempertentangkan sunnah dengan al-Quran dan menolaknya bila belum ditemukan pada al-Quran apa-apa yang menguatkan sunnah, termasuk tanda ahli bidah yang paling kentara. Nabi telah mengabarkannya sebelum terjadi dan benarlah beliau. Sekarang apa yang beliau kabarkan telah terjadi. Sungguh kita mendengar dan membaca peristiwa semisal itu dari sebagian ahli bidah pada jaman dulu. Hingga kita melihat salah satu dari ahli bidah dan orang sesat jaman sekarang menghujat kitab shahih Bukhari yang telah disepakati oleh umat ini keshahihannya.Ia yakin bahwa padanya terdapat seratus dua puluh hadits yang tidak shahih yang ia sebut sebagai hadits Israiliat. Ia menghilangkannya dan mempertentangkannya dengan al-Quran kemudian ia bantah dan ingkari. Tampillah seorang tokoh ulama sekarang menentang, meruntuhkan sybuhatnya (kerancuannya), menolak kebatilannya, menampakkan penyimpangan dan kepalsuannya dengan karyanya untuk membantahnya dan orang yang menempuh jalanya, ahli bidah. Semoga Allah membalas amalnya dengan sebaik-baik pembalasan.
5. MEMBENCI AHLI HADITS
Termasuk tanda ahli bidah adalah membenci dan mencela ahli hadits dan atsar. Dari Ahamad bin Sinan al-Qaththan katanya: Dan tidaklah ada di dunia ini seorang mubtadi pun kecuali membenci ahli hadits.
Abu Hatim ar-Razi berkata,Tanda ahli bidah adalah mencela ahli hadits dan tanda orang zindik adalah menamakan Ahlus Sunnah bengis. Dengan sebutan itu mereka menghendaki hilangnya hadits.
6. MENGGELARI AHLUS SUNNAH DENGAN TUJUAN MERENDAHKAN MEREKA
Termasuk tanda mereka adalah menggelari Ahlus Sunnah(yang bertolak belakang dengan sifat mereka) dengan tujuan merendahkan mereka.
Abu Hatim ar-Razi berkata:Tanda Jahmiah adalah menamakan Ahlus Sunnah musyabbahah(menyerupakan Allah dengan mahluk). Ciri-ciri Qadariah adalah menamakan Ahlus Sunnah mujabbirah(mahluk tidak mempunyai kehendak.) Ciri-ciri Murjiaah adalah menamakan Ahlus Sunnah menyimpang dan mengurangi.Ciri-ciri Rafidhah adalah menamakan Ahlus Sunnah nashibah(mencela Ali). Ahlus Sunnah tidak digabungkan kecuali kepada satu nama dan mustahil nama-nama ini mengumpulkan mereka.
Al-Barbahari berkata,Dan orang yang tertutup(kejelekannya) adalah yang jelas ia tertutup(kejelekannya) dan orang yang terbuka kejelekannya adalah orang yang jelas aibnya. Bila kamu mendengar seorang mengatakan fulan Nashibi, ketahuilah bahwa ia adalah Rafidly. Bila kamu mendengar seorang mengatakan fulan musyabbihah atau fulan menyerupakan Allah dengan makhluk, ketahuilah bahwa ia adalah Jahmy. Bila kamu mendengar seorang berkata tentang tauhid dan mengatakan,Terangkan padaku tauhid!, ketahuilah bahwa ia adalah Kharijy dan Mutazily. Atau mengatakan, fulan Mujabbirah atau mengatakan, dengan ijbar atau berkata dengan adilm ketahuilah bahwa ia adalah Qadari karena nam-nama ini bidah yang dibuat-buat oleh ahli bidah.
Syaikh Ismail as-Shabuni mengatakan,Ciri-ciri ahli bidah amat jelas dan terang Sedang tanda-tanda mereka yang paling jelas adalah sangat keras memusuhi para pemilkul hadits, dan menghinakan mereka dan mengelari mereka kaku,bodoh,dhahiri,(tekstu
7. TIDAK BERPEGANG DENGAN MADZHAB SALAF
Syaikhul Islam berkata,Kelompok-kelompok bidah yang terkenal di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang tidak menganut madzhab salaf antara lain kelompok: Rafidhah, sampai orang awam tidak mengetahui syiar-syiar bidah kecuali rafdl(menolak kepemimpinan khulafaur rasyidin selain Ali). Dan sunni menurut istilah orang awam adalah orang yang bukan rafidhi ….Sehinga diketahui syiar ahli bidah menolak madzhab Salaf. Oleh karena itu dalam risalah yang ditujukan kepada Abdus bin Malik Imam Ahamad berkata,Asas sunnah menurut kami adalah berpegang dengan apa yang dijalani sahabat Muhammad….
8. MEMVONIS KAFIR ORANG YANG MENYELISIHI MEREKA TANPA DALIL
Dalam banyak tempat Syaikhul Islam menyebutkan tentang bantahan terhadap orang yang menvonis orang yang masih belum jelas kekafirannya,Pendapat ini tidak diketahui dari seorang sahabat, tabiin, yang mengikuti mereka dengan baik dan tidak pula dari salah satu imam tetapi ini termasuk salah satu pokok dari pokok-pokok ahli bidah yang membuat bidah dan menvonis kafir orang yang menyelisihi mereka semisal Khawarij, Mutazilah dan Jahmiah.
Beliau berkata,Khawarij,Mutazilah
Akan tetapi Ahlus Sunnah adalah golongan yang mengikuti kebenaran dari rab mereka yang dibawa oleh rasul-Nya,tidak menvonis kafir golongan yang menyelisihi mereka. Mereka golongan yang paling tahu tentang kebenaran dan kondisi manusia.
Syaikh Abdul Lathif bin Abdur Rahman Alu Syaikh ditanya tentang orang yang menvonis kafir sebagian golongan yang menyelisihinya. Beliau menjawab,Jawabannya, Saya tidak mengetahui sandaran ucapan itu. Berani menvonis kafir golongan lain yang menampakkan keislaman tanpa dasar syari dan keterangan yang akurat menyeilisihi manhaj para pakar ilmu agama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Jalan ini adalah jalannya ahlul bidah dan orang-orang sesat.
Sumber : Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama'ah min Ahlil Ahwa wal Bid'ah karya Dr. Ibrahim Ruhaily
FATWA-FATWA SEPUTAR PERGAULAN PRIA DAN WANITA
FATWA-FATWA SEPUTAR PERGAULAN PRIA DAN WANITA
Oleh : Ustadz. Zaenal Abidin, Lc
Di bawah ini terdapat sejumlah fatwa ulama besar yang berkedudukan di Saudi Arabia tentang berbagai masalah penting yang sangat dibutuhkan oleh setiap muslim dan muslimah.
1. Alasan Diharamkannya Berjabat Tangan dengan Wanita Bukan Mahram
Tanya: Mengapa Islam mengharamkan laki-laki berjabatan tangan dengan wanita bukan mahram? Batalkah wudhu seorang laki-laki yang berjabat tangan dengan wanita tanpa syahwat?
Jawab : Islam mengharamkan hal itu karena termasuk salah satu fitnah yang paling besar. Jangan sampai seorang laki-laki menyentuh kulit wanita yang bukan mahram atau seluruh perkara yang memancing timbulnya fitnah. Karena itu, Allah memerintahkan menundukkan panda-ngan untuk mencegah mafsadat (kerusakan) ini. Ada pun orang yang menyentuh istrinya, maka wudhunya tidak batal, sekali pun hal itu dilakukan karena syahwat. Kecuali jika sampai mengeluarkan madzi atau mani. Jika ia sampai mengeluarkan mani, maka harus mandi dan jika yang dikeluarkan adalah madzi, maka ia harus berwudhu dan mencuci dzakarnya. (Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin)
2. Hukum Seorang Laki-laki Berjabat Tangan dengan Saudara Ipar Perempuan
Tanya : Bolehkah seorang laki-laki berjabat tangan dengan saudara ipar perempuan, jika itu dilakukan tanpa khalwat, di hadapan sanak saudara dan orang tua, yang sering kali terjadi dalam kesempatan-kesempatan seperti hari raya dan sebagainya ?
Jawab : Tidak boleh seorang laki-laki berjabat tangan dengan istri saudaranya atau istri pamannya, sebagaimana larangan berjabat tangan dengan wanita-wanita ajnabiyyah (asing bukan mahram) yang lain. Sebab, seorang laki-laki bukanlah mahram bagi istri saudaranya, dan begitu juga paman dari pihak ayah bukan mahram bagi istri keponakannya dan paman dari pihak ibu juga bukan mahram bagi isteri keponakannya. Dan begitu juga anak-anak paman bukan mahram bagi istri-istri sepupunya. Hal itu berdasar-kan sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam , “Sesungguhnya, aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” Aisyah Radhiallaahu anha berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Salam tidak pernah menyentuh tangan wanita. Beliau tidak membai’at kaum wanita, kecuali dengan ucapan.”
Di samping itu, karena berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram bisa menjadi penyebab tim-bulnya fitnah, misalnya memandang atau yang lebih berbahaya dari itu. Adapun dengan orang-orang yang memiliki hubungan mahram, maka tidak mengapa berjabat tangan. Wallahu waliyyut taufiq. (Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz)
3. Hukum Berjabat Tangan dengan Wanita Ajnabiyyah (Non Mahram-adm) Jika Memakai Penutup
Tanya : Bolehkah saya berjabat tangan dengan wanita ajnabiyah jika ia mengenakan kain penutup di tangan- nya ? Apakah hukum wanita yang telah berusia lanjut sama dengan hukum wanita yang masih muda ?
Jawab : Seorang pria tidak boleh berjabat tangan dengan wanita ajnabiyah yang tidak memiliki hubungan mahram, baik jabat tangan itu dilaksa-nakan secara langsung maupun dengan menggunakan penutup tangan, karena hal itu merupakan salah satu bentuk fitnah. Sedangkan Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman,
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’ : 32).
Ayat ini menunjukkan bahwa kita berkewajiban untuk meninggalkan segala sesuatu yang menghantarkan kepada perzinaan, baik berupa zina kemaluan yang merupakan zina yang paling besar atau lainnya. Tidak diragu-kan bahwa persentuhan antara tangan seorang pria dengan tangan seorang wanita ajnabiyyah bisa membangkitkan syahwat, apalagi terdapat hadits-hadits yang melarang keras tindakan tersebut dan yang menyatakan ancaman keras terhadap siapa saja yang berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Dalam hal itu, tidak ada perbedaan antara wanita yang masih muda maupun yang sudah tua. Kita harus berhati-hati karena setiap barang bergeletakan pasti ada pemungutnya. Di samping itu, persepsi orang sering berbeda mengenai batasan wanita yang masih muda dan yang sudah tua. Bisa jadi seseorang menganggap wanita anu sudah tua, tetapi yang lain menganggap ia masih muda. (Syaikh Muhammad al-Utsaimin)
4.Berduaan dengan Wanita Ajnabiyyah adalah Haram
Tanya : Sebagian orang ada yang menganggap remeh masalah perbincangan antara seorang laki-laki dengan wanita ajnabiyyah. Misalnya, jika seseorang datang ke rumah sahabatnya, tetapi ternyata sahabatnya itu tidak ada, maka istrinya akan menemuinya dan berbincang-bincang dengannya. Ia membuka majelis serta menghidangkan kopi atau teh kepadanya. Apakah tindakan ini dibolehkan, mengingat bahwa ketika itu tidak ada seorang pun yang berada di rumah selain istri orang tersebut ?
Jawab : Seorang wanita tidak dibolehkan mengizinkan pria bukan mahram memasuki rumah suaminya, ketika suaminya bepergian, meskipun orang tersebut adalah kawan akrab suaminya dan sekalipun ia seorang yang dapat dipercaya, sebab tindakan ini merupakan khalwat (menyendiri) antara seorang pria dengan seorang wanita ajnabiyyah. Padahal disebutkan di dalam hadits, “Sungguh tidaklah seorang laki-laki menyendiri dengan seorang wanita, kecuali syetan akan menjadi pihak yang ke tiga.”
Sebaliknya, seseorang diharamkan meminta kepada istri sahabatnya agar mengizinkannya masuk rumahnya dan memperlakukannya sebagai tamu, meski ia yakin akan mampu menjaga sifat amanat dan ketaatan kepada agama, di dalam dirinya; Karena dikhawatirkan setan akan menggodanya dan mempengaruhi kedua-keduanya.
Sang suami juga berkewajiban untuk mengingatkan istrinya agar tidak memasukkan laki-laki ajnabi ke rumah, sekalipun ia kerabat si suami sendiri. Karena Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Janganlah kamu sekalian masuk ke rumah kaum wanita!” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan al-hamwu´(ipar)? Beliau menjawab, “Al-hamwu itu maut.”
Al-hamwu adalah saudara atau kerabat suami. Jika al-hamwu dilarang masuk ke rumah wanita, maka apalagi selainnya. (Syaikh Abdur Rahman Al-Jibrin)
5.Hukum Hubungan Sebelum Pernikahan (Pacaran)
Tanya : Bagaimana hukum tentang hubungan sebelum pernikahan ?
Jawab : Jika yang dimaksud penanya dengan “sebelum pernikahan” adalah sebelum resepsi pernikahan, tetapi setelah akad nikah (ijab), maka ini tidaklah berdosa. Sebab, dengan berlangsungnya akad nikah, maka seorang wanita telah sah menjadi istri, sekalipun belum diadakan resepsi pernikahan. Adapun jika hubungan tersebut dilakukan sebelum akad nikah, yaitu selama masa pinangan atau sebelumnya, maka diharamkan. Seorang pria tidak boleh bersenang-senang dengan bukan mahram, baik dengan berbincang-bincang, memandang atau berduaan. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Jangan sekali-kali seorang pria berdua dengan seorang wanita kecuali jika wanita itu bersama mahramnya dan janganlah seorang wanita bepergian jauh, kecuali bersama mahramnya.”
Jadi jika hubungan ini dilakukan setelah akad, maka tidak berdosa, tapi jika dilakukan sebelum akad, walaupun setelah diterimanya pinangan, maka tidak dibolehkan. Pria tadi diharamkan untuk menjalin hubungan dengan wanita calon istrinya, karena ia tetap berstatus sebagai wanita ajnabiyyah sampai akad nikah keduanya dilang-sungkan.(Syaikh Muhammad al-Utsaimin)
6. Hukum Wanita Bekerja di Tempat yang Bercampur antara Pria dan Wanita
Tanya : Bolehkah seorang wanita bekerja di suatu tempat yang di dalamnya berbaur antara wanita dengan pria semata-mata karena dia tahu bahwa di tempat itu terdapat pekerja-pekerja wanita lain selain dirinya ?
Jawab : Saya berpendapat bahwa tidak boleh kaum pria bercampur baur dengan kaum wanita baik ketika bekerja sebagai pegawai pemerintah maupun swasta, juga di sekolah-sekolah negri maupun swasta. Sesungguhnya, bercampur-baurnya kaum pria dengan kaum wanita itu bisa menimbulkan berbagai mafsadat, paling tidak akan hilang perasaan malu dari kaum wanita dan akan hilang kewibawaan dari kaum pria. Sebab, jika pria dan wanita telah berbaur dalam suatu tempat, tidak ada lagi wibawa laki-laki di hadapan wanita dan tidak ada lagi rasa malu wanita kepada pria. Dan ini (berbaurnya kaum pria dan wanita) bertentangan dengan Syariah Islam dan kebiasaan kaum Salafush shalih.
Bukankah anda mengetahui, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menetapkan tempat khusus bagi kaum wanita jika mereka keluar ke mushalla tempat dilaksanakannya shalat Ied. Mereka tidak bercampur baur dengan kaum pria. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, bahwa seusai berkhutbah di hadapan kaum pria, beliau turun dari mimbar dan pergi ke tempat berkumpulnya kaum wanita. Beliau menyampaikan ta’lim dan taushiyah kepada mereka. Ini menunjukkan, bahwa mereka tidak mendengar khutbah Nabi Shallallaahu’alaihi wa Salam atau andaikata mendengar, mereka belum memahami apa yang mereka dengar dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .
Selain itu, bukankah anda mengetahui bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhir dan seburuk-buruknya adalah yang paling depan, sedangkan sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan dan seburuk-buruknya yang paling belakang.”
Itu tidak lain karena shaf wanita yang paling depan itu berdekatan dengan shaf laki-laki, maka merupakan seburuk-buruk shaf dan shaf wanita yang paling akhir itu jauh dari shaf laki-laki, maka merupakan sebaik-baik shaf.
Jika ada ketentuan semacam ini di dalam ibadah yang dilaksanakan secara bersama-sama, maka bagaimana pula pendapat anda jika hal ini terjadi di luar ibadah? Merupakan hal yang dimak-lumi bahwa ketika beribadah manusia berada dalam keadaan yang paling jauh dari keterkaitan dengan nafsu seksual. Bagaimana jika campur-baur itu terjadi di luar ibadah? Sesungguhnya syetan itu mengalir di dalam tubuh anak Adam sebagaimana aliran darah, maka tidak mustahil jika terjadi fitnah dan keburukan besar disebabkan oleh pencampurbauran antara pria dan wanita ini. Saya himbau kepada saudara-saudara kami agar mereka menghindari ikhtilath (bercampur baur pria dan wanita yang bukan mahram). Hendaklah mereka mengetahui, bahwa hal itu merupakan salah satu hal yang sangat berbahaya bagi kaum pria. Sebagai-mana sabda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam , “Aku tidak meninggalkan sesudahku, suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi pria dibanding dengan fitnah wanita.”
Alhamdulillah, kita kaum muslim mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakan kita dari golongan selain kita. Kita harus memuji Allah yang telah mengaruniakan ciri khas tersebut kepada kita.
Kita harus mengetahui, bahwa kita mengikuti syari’ah Allah Yang Maha Bijaksana, yang Mengetahui apa yang baik bagi para hamba dan bagi suatu negri. Kita juga harus mengetahui, bahwa barangsiapa lari dari jalan Allah Subhannahu wa Ta'ala dan dari syariah Allah, maka mereka itu berada dalam kesesatan dan akhirnya mereka akan menjumpai kebinasaan. Kita memohon kepada Allah agar melindungi negri kita dan negri-negri kaum muslimin dari segala keburukan dan fitnah. (Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz)
Sumber : Buletin “Fatawa an-Nazhar wa al-Khalwah” Lembaga fatwa dan Riset Arab Saudi.
Oleh : Ustadz. Zaenal Abidin, Lc
Di bawah ini terdapat sejumlah fatwa ulama besar yang berkedudukan di Saudi Arabia tentang berbagai masalah penting yang sangat dibutuhkan oleh setiap muslim dan muslimah.
1. Alasan Diharamkannya Berjabat Tangan dengan Wanita Bukan Mahram
Tanya: Mengapa Islam mengharamkan laki-laki berjabatan tangan dengan wanita bukan mahram? Batalkah wudhu seorang laki-laki yang berjabat tangan dengan wanita tanpa syahwat?
Jawab : Islam mengharamkan hal itu karena termasuk salah satu fitnah yang paling besar. Jangan sampai seorang laki-laki menyentuh kulit wanita yang bukan mahram atau seluruh perkara yang memancing timbulnya fitnah. Karena itu, Allah memerintahkan menundukkan panda-ngan untuk mencegah mafsadat (kerusakan) ini. Ada pun orang yang menyentuh istrinya, maka wudhunya tidak batal, sekali pun hal itu dilakukan karena syahwat. Kecuali jika sampai mengeluarkan madzi atau mani. Jika ia sampai mengeluarkan mani, maka harus mandi dan jika yang dikeluarkan adalah madzi, maka ia harus berwudhu dan mencuci dzakarnya. (Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin)
2. Hukum Seorang Laki-laki Berjabat Tangan dengan Saudara Ipar Perempuan
Tanya : Bolehkah seorang laki-laki berjabat tangan dengan saudara ipar perempuan, jika itu dilakukan tanpa khalwat, di hadapan sanak saudara dan orang tua, yang sering kali terjadi dalam kesempatan-kesempatan seperti hari raya dan sebagainya ?
Jawab : Tidak boleh seorang laki-laki berjabat tangan dengan istri saudaranya atau istri pamannya, sebagaimana larangan berjabat tangan dengan wanita-wanita ajnabiyyah (asing bukan mahram) yang lain. Sebab, seorang laki-laki bukanlah mahram bagi istri saudaranya, dan begitu juga paman dari pihak ayah bukan mahram bagi istri keponakannya dan paman dari pihak ibu juga bukan mahram bagi isteri keponakannya. Dan begitu juga anak-anak paman bukan mahram bagi istri-istri sepupunya. Hal itu berdasar-kan sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam , “Sesungguhnya, aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” Aisyah Radhiallaahu anha berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Salam tidak pernah menyentuh tangan wanita. Beliau tidak membai’at kaum wanita, kecuali dengan ucapan.”
Di samping itu, karena berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram bisa menjadi penyebab tim-bulnya fitnah, misalnya memandang atau yang lebih berbahaya dari itu. Adapun dengan orang-orang yang memiliki hubungan mahram, maka tidak mengapa berjabat tangan. Wallahu waliyyut taufiq. (Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz)
3. Hukum Berjabat Tangan dengan Wanita Ajnabiyyah (Non Mahram-adm) Jika Memakai Penutup
Tanya : Bolehkah saya berjabat tangan dengan wanita ajnabiyah jika ia mengenakan kain penutup di tangan- nya ? Apakah hukum wanita yang telah berusia lanjut sama dengan hukum wanita yang masih muda ?
Jawab : Seorang pria tidak boleh berjabat tangan dengan wanita ajnabiyah yang tidak memiliki hubungan mahram, baik jabat tangan itu dilaksa-nakan secara langsung maupun dengan menggunakan penutup tangan, karena hal itu merupakan salah satu bentuk fitnah. Sedangkan Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman,
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’ : 32).
Ayat ini menunjukkan bahwa kita berkewajiban untuk meninggalkan segala sesuatu yang menghantarkan kepada perzinaan, baik berupa zina kemaluan yang merupakan zina yang paling besar atau lainnya. Tidak diragu-kan bahwa persentuhan antara tangan seorang pria dengan tangan seorang wanita ajnabiyyah bisa membangkitkan syahwat, apalagi terdapat hadits-hadits yang melarang keras tindakan tersebut dan yang menyatakan ancaman keras terhadap siapa saja yang berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Dalam hal itu, tidak ada perbedaan antara wanita yang masih muda maupun yang sudah tua. Kita harus berhati-hati karena setiap barang bergeletakan pasti ada pemungutnya. Di samping itu, persepsi orang sering berbeda mengenai batasan wanita yang masih muda dan yang sudah tua. Bisa jadi seseorang menganggap wanita anu sudah tua, tetapi yang lain menganggap ia masih muda. (Syaikh Muhammad al-Utsaimin)
4.Berduaan dengan Wanita Ajnabiyyah adalah Haram
Tanya : Sebagian orang ada yang menganggap remeh masalah perbincangan antara seorang laki-laki dengan wanita ajnabiyyah. Misalnya, jika seseorang datang ke rumah sahabatnya, tetapi ternyata sahabatnya itu tidak ada, maka istrinya akan menemuinya dan berbincang-bincang dengannya. Ia membuka majelis serta menghidangkan kopi atau teh kepadanya. Apakah tindakan ini dibolehkan, mengingat bahwa ketika itu tidak ada seorang pun yang berada di rumah selain istri orang tersebut ?
Jawab : Seorang wanita tidak dibolehkan mengizinkan pria bukan mahram memasuki rumah suaminya, ketika suaminya bepergian, meskipun orang tersebut adalah kawan akrab suaminya dan sekalipun ia seorang yang dapat dipercaya, sebab tindakan ini merupakan khalwat (menyendiri) antara seorang pria dengan seorang wanita ajnabiyyah. Padahal disebutkan di dalam hadits, “Sungguh tidaklah seorang laki-laki menyendiri dengan seorang wanita, kecuali syetan akan menjadi pihak yang ke tiga.”
Sebaliknya, seseorang diharamkan meminta kepada istri sahabatnya agar mengizinkannya masuk rumahnya dan memperlakukannya sebagai tamu, meski ia yakin akan mampu menjaga sifat amanat dan ketaatan kepada agama, di dalam dirinya; Karena dikhawatirkan setan akan menggodanya dan mempengaruhi kedua-keduanya.
Sang suami juga berkewajiban untuk mengingatkan istrinya agar tidak memasukkan laki-laki ajnabi ke rumah, sekalipun ia kerabat si suami sendiri. Karena Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Janganlah kamu sekalian masuk ke rumah kaum wanita!” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan al-hamwu´(ipar)? Beliau menjawab, “Al-hamwu itu maut.”
Al-hamwu adalah saudara atau kerabat suami. Jika al-hamwu dilarang masuk ke rumah wanita, maka apalagi selainnya. (Syaikh Abdur Rahman Al-Jibrin)
5.Hukum Hubungan Sebelum Pernikahan (Pacaran)
Tanya : Bagaimana hukum tentang hubungan sebelum pernikahan ?
Jawab : Jika yang dimaksud penanya dengan “sebelum pernikahan” adalah sebelum resepsi pernikahan, tetapi setelah akad nikah (ijab), maka ini tidaklah berdosa. Sebab, dengan berlangsungnya akad nikah, maka seorang wanita telah sah menjadi istri, sekalipun belum diadakan resepsi pernikahan. Adapun jika hubungan tersebut dilakukan sebelum akad nikah, yaitu selama masa pinangan atau sebelumnya, maka diharamkan. Seorang pria tidak boleh bersenang-senang dengan bukan mahram, baik dengan berbincang-bincang, memandang atau berduaan. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Jangan sekali-kali seorang pria berdua dengan seorang wanita kecuali jika wanita itu bersama mahramnya dan janganlah seorang wanita bepergian jauh, kecuali bersama mahramnya.”
Jadi jika hubungan ini dilakukan setelah akad, maka tidak berdosa, tapi jika dilakukan sebelum akad, walaupun setelah diterimanya pinangan, maka tidak dibolehkan. Pria tadi diharamkan untuk menjalin hubungan dengan wanita calon istrinya, karena ia tetap berstatus sebagai wanita ajnabiyyah sampai akad nikah keduanya dilang-sungkan.(Syaikh Muhammad al-Utsaimin)
6. Hukum Wanita Bekerja di Tempat yang Bercampur antara Pria dan Wanita
Tanya : Bolehkah seorang wanita bekerja di suatu tempat yang di dalamnya berbaur antara wanita dengan pria semata-mata karena dia tahu bahwa di tempat itu terdapat pekerja-pekerja wanita lain selain dirinya ?
Jawab : Saya berpendapat bahwa tidak boleh kaum pria bercampur baur dengan kaum wanita baik ketika bekerja sebagai pegawai pemerintah maupun swasta, juga di sekolah-sekolah negri maupun swasta. Sesungguhnya, bercampur-baurnya kaum pria dengan kaum wanita itu bisa menimbulkan berbagai mafsadat, paling tidak akan hilang perasaan malu dari kaum wanita dan akan hilang kewibawaan dari kaum pria. Sebab, jika pria dan wanita telah berbaur dalam suatu tempat, tidak ada lagi wibawa laki-laki di hadapan wanita dan tidak ada lagi rasa malu wanita kepada pria. Dan ini (berbaurnya kaum pria dan wanita) bertentangan dengan Syariah Islam dan kebiasaan kaum Salafush shalih.
Bukankah anda mengetahui, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menetapkan tempat khusus bagi kaum wanita jika mereka keluar ke mushalla tempat dilaksanakannya shalat Ied. Mereka tidak bercampur baur dengan kaum pria. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, bahwa seusai berkhutbah di hadapan kaum pria, beliau turun dari mimbar dan pergi ke tempat berkumpulnya kaum wanita. Beliau menyampaikan ta’lim dan taushiyah kepada mereka. Ini menunjukkan, bahwa mereka tidak mendengar khutbah Nabi Shallallaahu’alaihi wa Salam atau andaikata mendengar, mereka belum memahami apa yang mereka dengar dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .
Selain itu, bukankah anda mengetahui bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhir dan seburuk-buruknya adalah yang paling depan, sedangkan sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan dan seburuk-buruknya yang paling belakang.”
Itu tidak lain karena shaf wanita yang paling depan itu berdekatan dengan shaf laki-laki, maka merupakan seburuk-buruk shaf dan shaf wanita yang paling akhir itu jauh dari shaf laki-laki, maka merupakan sebaik-baik shaf.
Jika ada ketentuan semacam ini di dalam ibadah yang dilaksanakan secara bersama-sama, maka bagaimana pula pendapat anda jika hal ini terjadi di luar ibadah? Merupakan hal yang dimak-lumi bahwa ketika beribadah manusia berada dalam keadaan yang paling jauh dari keterkaitan dengan nafsu seksual. Bagaimana jika campur-baur itu terjadi di luar ibadah? Sesungguhnya syetan itu mengalir di dalam tubuh anak Adam sebagaimana aliran darah, maka tidak mustahil jika terjadi fitnah dan keburukan besar disebabkan oleh pencampurbauran antara pria dan wanita ini. Saya himbau kepada saudara-saudara kami agar mereka menghindari ikhtilath (bercampur baur pria dan wanita yang bukan mahram). Hendaklah mereka mengetahui, bahwa hal itu merupakan salah satu hal yang sangat berbahaya bagi kaum pria. Sebagai-mana sabda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam , “Aku tidak meninggalkan sesudahku, suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi pria dibanding dengan fitnah wanita.”
Alhamdulillah, kita kaum muslim mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakan kita dari golongan selain kita. Kita harus memuji Allah yang telah mengaruniakan ciri khas tersebut kepada kita.
Kita harus mengetahui, bahwa kita mengikuti syari’ah Allah Yang Maha Bijaksana, yang Mengetahui apa yang baik bagi para hamba dan bagi suatu negri. Kita juga harus mengetahui, bahwa barangsiapa lari dari jalan Allah Subhannahu wa Ta'ala dan dari syariah Allah, maka mereka itu berada dalam kesesatan dan akhirnya mereka akan menjumpai kebinasaan. Kita memohon kepada Allah agar melindungi negri kita dan negri-negri kaum muslimin dari segala keburukan dan fitnah. (Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz)
Sumber : Buletin “Fatawa an-Nazhar wa al-Khalwah” Lembaga fatwa dan Riset Arab Saudi.
Tanda-tanda menjelang ajal Bagikan
Tanda Tanda Menjelang Ajal Tiba
Kematian adalah termasuk didalam perkara-perkara yang dirahasiakan Alloh SWT, namun bukan hal yang mustahil tanda-tanda kematian itu dapat dirasakan setiap hamba sebelum ajalnya tiba.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Ibnu Umar; Muhammad pernah bersabda: ”Lima kunci perkara gaib, tidak mengetahuinya melainkan Allah”. Satu, tiada yang mengetahui (kepastian mutlak) apa yang tersimpan di dalam rahim (kandungan perempuan) melainkan Allah . Dua, tiada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari melainkan Allah. Tiga, tiada seorangpun yang mengetahui bila waktunya hujan akan turun melainkan Allah. Empat, tiada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati melainkan Allah. Lima, tiada yang mengetahui bila kiamat akan terjadi melainkan Allah. (HR. Bukhory).
Hadist tersebut menjelaskan, bahwa tiada seorangpun yang mengetahui hal-hal yang gaib kecuali Allah. Adapun tanda-tanda sesuatu yang gaib itu terkadang dapat kita rasakan wujudnya dari perkiraan dan kajian para ilmuwan. Misalkan jita dapat mengetahui janin berkelamin laki atau perempuan dalam kandungan via USG. Atau kita dapat mengetahui perkiraan cuaca akan turunnya hujan maupun cuaca cerah beberapa hari sebelumnya, dll.
Padahal sesuai hadist tersebut, semua itu adalah hal-hal yang gaib, tapi mengapa manusia dapat mengetahuinya? Nah disini kita rasanya perlu mengkaji secara cermat dan membedakan mana hal yang ghaib mutlak dan mana hal gaib yang dapat kita ketahui tanda-tanda terjadinya perkara gaib.
1-Tiada yang mengetahui (kepastian mutlak) apa yang tersimpan di dalam rahim (kandungan perempuan) melainkan Alloh Ta’ala.
2-Tiada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari melainkan Alloh SWT.
3-Tiada seorangpun yang mengetahui bila waktunya hujan akan turun melainkan Alloh SWT.
4-Tiada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati melainkan Alloh SWT.
5-Tiada yang mengetahui bila Qiamat akan terjadi melainkan Alloh Ta’ala. (Bukhory).
Hadist tersebut menjelaskan, bahwa tiada seorangpun yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Alloh Ta’ala. Adapun tanda-tanda sesuatu yang ghaib itu terkadang dapat kita rasakan wujudnya dari perkiraan dan kajian para ilmuan.. misal:
-Kita dapat mengetahui janin berkelamin laki atau perempuan dalam kandungan via USG.
-Kita dapat mengetahui perkiraan cuaca akan turunnya hujan maupun cuaca cerah beberapa hari sebelumnya, dll.
Riwayat –riwayat hadist diatas mengingatkan kepada kita, sesungguhnya Alloh SWT tidak pernah berlaku dholim kepada hambanya. Tanda-tanda yang diberikan adalah untuk menjadikan manusia agar mendapat kesempatan bertobat dan bersedia memahami perjalanan menuju alam baka.
Banyak hal-hal ghaib yang kita sama sekali tidak mengetahui kecuali Alloh SWT yang maha tahu, contoh yang paling gampang: hari Qiamat itu pasti terjadi, kapan hari terjadinya? Tidak ada satu manusiapun yang dapat memastikan-nya, namun Alloh SWT memberikan tanda-tanda Qiamat kepada manusia. Begitu juga kematian seseorang tidak ada satupun yang akan mengetahui kapan taqdir/ detik-detik ajal tiba, namun Alloh SWT memberikan tanda-tanda seorang yang akan mati. Hanya saja ada orang yang merasakan tanda-tanda menjelang kematian dan ada pula yang acuh akan hal itu.
Inilah Tanda Tandany:
Tanda 100 hari sebelum ajal tiba.
Ini adalah tanda pertama dari Alloh SWT kepada hambanya dan hanya akan disadari oleh mereka-mereka yang dikehendakinya. Walaubagaimana semua orang Islam akan mendapat tanda ini, hanya saja mereka sadar atau tidak.
Tanda ini akan berlaku kepastian-nya selepas waktu Asar, yaitu :
-Seluruh tubuh dari ujung rambut hingga ke ujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan mengigil. Misal, seperti daging sapi yang baru disembelih dimana jika diperhatikan dengan cermat kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya lezat dan bagi mereka yang sadar tersirat di hatinya bahwa mungkin ini adalah tanda kematian, maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini. Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap sia-sia begitu saja. Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanafa’atkan sisa umur yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.
Tanda 40 hari sebelum ajal tiba.
Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Asar. Bagian pusar kita akan berdenyut-denyut. Pada saat itu daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pokok yang letaknya di atas Arasy Alloh SWT. Maka malaikat Izroil pun akan mengambil daun tersebut dan mula membuat persediaan-nya ke atas kita diantaranya, Malaikat Maut/ Izroil akan mulai selalu mengikuti/ mengintai kita sepanjang sisa umur kita. dan Akan terjadi Malaikat maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas lalu tak nampak lagi dan bila ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika. Adapun Malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi berkuasa untuk mencabut nyawa bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya seijin Alloh SWT.
Tanda 7 hari sebelum ajal tiba.
Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesakitan di mana orang sakit yang tidak makan secara tiba-tiba dia (yang sakit) berselera untuk makan.
Tanda 3 hari sebelum ajal tiba.
Pada saat itu mereka akan terasa denyutan di bagian tengah dahi kita yaitu, diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini kita rasakan, maka berpuasalah kita setelah itu. supaya perut kita tidak mengandung banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti. saat juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh ke depan (berubah menjadi agak sedikit mancung dan mengkerut.. Telingan-nya akan layu dimana bagian ujungnya akan beransur-ansur masuk ke dalam. telapak kakinya yang terlunjur akan lemas dan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.
Tanda 1 hari sebelum ajal tiba.
Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang, yaitu di kawasan ubun-ubun di mana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.
Tanda Akhir !!!
Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu keadaan sejuk di bagian pusar hingga ke tulang sulbi dan rasa itu akan turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bagian hulkum (tenggorokan). Detik-detik itu hendaklah kita terus mengucap kalimat syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan Izroil/ malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada Alloh SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.
Catatan: bahwa keterangan diatas adalah tanda-tanda kematian saja, bukan kepastian, adapun ajal, hanya Alloh SWT yang maha tau. itupun tidak semua manusia sadar dengan tanda-tanda kematian tersebut.
Riwayat dari Abu Bakar ra, tentang roh.
Abu Bakar ra, telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar ra: ”Roh itu menuju ketujuh tempat :
1.Roh para Nabi dan utusan menuju ke Surga Adnin.
2.Roh para ulama menuju ke Surga Firdaus.
3.Roh mereka yang berbahagia menuju ke Surga illiyyin.
4.Roh para syuhada’ berterbangan seperti burung di surga mengikut kehendak mereka.
5.Roh para mu’min yang berdosa akan terkantung katung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari Qiamat.
6.Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7.Roh orang-orang kafir akan berada dalam Neraka Sijjin, mereka kelak disiksa berserta jasad barunya hingga sampai hari Qiamat.”
Telah bersabda Rosululloh SAW:
Tiga kelompok manusia yang akan disalami tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya:
1.Orang-orang yang mati syahid.
2.Orang-orang yang mengerjakan solat malam bulan ramadhon.
3.Orang berpuasa di hari Arafah.
Kita tidak akan dapat lolos dari ajal, Malaikat Izroil yang mempunyai tugas mencabut nyawa manusia yang selalu menghadang kita. Apa bekal kita untuk dibawa mati...? tentunya Iman dan amal-amal baik yang akan menyelamatkan kita dari kobaran api Neraka.
Sang pencabut nyawa (Izroil) akan mendatangi setiap orang guna melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan Alloh Ta’ala, siapa saja.. kapan saja.. dimana saja.. pasti ajal akan menjemput kita setelah merasakan dahsatnya Sakaratul Maut. sementara kita semua sedang menunggu kedatangan Malaikat Izroil yang bertugas memisahkan ruh dari jasad manusia. Bagaimanapun juga kita mengharap proses pencabutan nyawa berjalan dengan cepat tanpa penderitaan, namun harapan kita, Insya’Alloh akan terkabul apabila kita termasuk orang-orang yang mendapat rahmat-Nya.
Setelah badan terbujur kaku, Penyesalan tidak akan berarti, apakah mereka akan menjadi orang-orang yang beruntung ataukah menjadi orang-orang yang merugi...? tergantung tingkah laku manusia yang mereka perbuat selama di dunia, tiada yang lain, kecuali Iman dan amal baik yang akan menjadi bekal mati.
Sakaratul Maut adalah detik-detik kematian, beruntunglah bagi hamba-hamba yang taat selama di dunia dan sebaliknya (sakaratul maut) akan menjadi malapetaka besar bagi orang-orang yang belum bertaubat dan berlumuran dosa.
Sekian uraian saya, semoga bermanfa’at bagi kita semua.
JANGAN BERSEDIH
Segala puji hanya bagi Allah yang memiliki seluruh pujian. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang disembah dengan benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau, keluarga dan para shahabat beliau.
Sesungguhnya di antara sunnatullah yang berlaku adalah kehidupan ini tidak selamanya berjalan dalam satu kondisi. Orang yang memperhatikan sejarah umat-umat terdahulu akan mengetahui bahwa sunnatullah ini tidak berhenti. Umat demi umat musnah, digantikan umat yang lain. Beberapa individu lahir dan yang lainnya meninggal. Kemenangan dan kekalahan, kemuliaan dan kehinaan, kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, kesehatan dan sakit, serta kesedihan dan kebahagiaan senantiasa bergulir silih berganti.
Rintangan dan kesusahan hidup ini begitu beragam, tidak terhitung banyaknya. Bahkan, setiap kali matahari terbit dan terbenam, manusia selalu berada dalam ujian dan cobaan, baik berupa hilangnya sesuatu yang dicintai maupun mengalami sesuatu yang tidak disukai. Oleh karena itu, kelapangan dan kebahagiaan hati serta sirnanya kesedihan dan kegundahan merupakan tujuan semua orang. Dengan itu kehidupan yang baik bisa diraih dan kegembiraan serta keceriaan menjadi sempurna.
HAKIKAT SEDIH
Pada hakikatnya, kesedihan adalah perasaan jiwa yang bersifat naluriah, berupa kecil hati dan hilangnya rasa senang dan gembira pada seseorang. (Demikian definisi sedih menurut sejumlah psikolog). Perasaan ini dialami setiap orang dari waktu ke waktu, tergantung sikap mental yang ada pada dirinya dan kesulitan hidup yang dialaminya. Perasaan ini dapat hilang dengan sendirinya atau manusia itu sendiri sanggup melawannya dengan cara yang tepat.
Sedih dan gembira adalah dua perasaan naluriah yang saling berlawanan, yang telah Allah ciptakan pada tabiat manusia. Salah satunya bisa meredup karena ditekan oleh yang lain. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman, “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43). Ikrimah Rahimahullah berkata, “Tidak seorangpun, kecuali mangalami senang dan sedih. Akan tetapi, buatlah kesenangan menjadi syukur dan kesedihan menjadi sabar.”
BAHAYA SEDIH
Tidak diragukan lagi bahwa kesedihan itu menimbulkan berbagai bahaya yang bisa mengancam individu dan masyarakat. Buktinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kesedihan. Do’a beliau adalah, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, sifat kikir dan pengecut, lilitan hutang, dan dikuasai orang lain.” (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Jihad, bab Man Ghaza bi Shabiy li al-Khidmah 3/1059 no. 2736).
Bahaya-bahaya yang timbul akibat kesedihan itu berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain. Hal tersebut dikarenakan di samping bergantung pada dahsyat-tidaknya musibah yang menimpa, dapat juga disebabkan kesiapan jiwa orang yang terkena musibah, atau bergantung pada kuat-lemahnya keimanan kepada taqdir Allah Ta’ala.
Adapun bahaya-bahaya kesedihan terhadap individu dan masyarakat di antaranya adalah:
a. Lesu dalam berpikir dan kurang konsentrasi terhadap sesuatu.
b. Padamnya kobaran semangat dalam jiwa, atau dengan kata lain runtuhnya semangat. Hal ini mengakibatkan orang yang sedang bersedih tidak bisa berpikir sehat dan tidak berbuat sesuatu yang bermanfaat, bahkan dapat menghambat segala kegiatannya.
c. Cepat merasa lelah, fisik lemah, dan terasa sakit di sekujur tubuh, terutama rasa nyeri di kepala dan semua persendian.
d. Meningkatkan detak jantung.
e. Meninggalkan perkara penting karena berpikir terus-menerus.
f. Terkadang kesedihan menyeret ke arah pesimis yang tiada hentinya, bahkan terkadang ke arah pesimis yang berlebihan.
g. Stres yang terkadang dapat mengantarkan kepada hilangnya ingatan.
h. Kesedihan terkadang menyeret seseorang untuk marah besar, yang dapat menyebabkan dia bertindak sewenang-wenang terhadap milik orang lain atau menyakiti tubuh mereka.
MENGHINDARI KESEDIHAN
Allah Ta’ala melarang Nabi-Nya untuk menyerah kepada kesedihan sebagaimana tercantum di beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya, “Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir.” (QS. Ali Imran: 176) dan juga firman Allah, “Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yunus: 65). Ayat-ayat lainnya adalah an-Nahl ayat 127, an-Naml ayat 70, Luqman ayat 23, dan Yasin ayat 76.
Allah Ta’ala juga melarang kaum mukminin bersedih hati, sebagaimana firman-Nya, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139).
Seorang muslim disyari’atkan untuk melakukan upaya-upaya yang dapat membantunya menghindari kesedihan. Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh seorang muslim agar terhindar dari kesedihan adalah:
1. Beriman dan beramal shalih
Sebab terbesar dan paling mendasar untuk menggapai kebahagiaan hidup adalah beriman dan beramal shalih. Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
Dalam ayat ini Allah Ta’ala memberitakan dan memberikan janji kepada orang yang menggabungkan antara iman dan amal shalih dengan kehidupan yang bahagia di dunia ini, serta diberi balasan yang baik di dunia maupun di akhirat. Orang-orang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, iman yang mampu membuahkan amal shalih yang memberikan perbaikan terhadap hati, akhlak, dunia, dan sekaligus akhirat, mereka memiliki dasar-dasar yang digunakan untuk menyikapi masalah yang datang kepada mereka yang akan menyebabkan mereka memperoleh kebahagiaan.
Ketika mereka mendapatkan sesuatu yang dicintai dan menyenangkan hati, mereka menerima dan mensyukurinya, serta menggunakannya dalam hal yang bermanfaat. Apabila mereka melakukan ini, maka muncul perasaan bahagia, amat menginginkan keberlangsungan dan keberkahan nikmat tersebut serta berharap pahala orang-orang yang bersyukur. Sungguh ini merupakan perkara-perkara yang amat besar, di mana kebaikan dan keberkahan yang merupakan buah amalnya itu, melebihi semua kesenangan (yang ia dapatkan).
Dan ketika mereka mendapati hal-hal yang buruk, mendatangkam madharat, kesedihan dan kegundahan, mereka berusaha dan meringankannya seringan mungkin, serta bersabar dengan kesabaran yang kuat ketika hal itu harus menimpa mereka. Dengan demikian, sungguh mereka akan memperoleh suatu imbal balik yang amat besar sebagai reaksi yang muncul ketika menghadapi perkara-perkara yang tidak disukai tersebut. Di antaranya, mendapatkan langkah penanggulangan yang bermanfaat sewaktu menghadapinya, melatih pengalaman, kekuatan dan kesabaran, serta mengharapkan pahala dan ganjaran. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya besarnya pahala diiringi besarnya cobaan. Dan, sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridha, maka Allah pun meridhainya, dan barangsiapa tidak ridha, maka Allah pun tidak meridhainya.” (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan, 4/159 nomor 2396, dan Ibnu majah 2/1338. Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam sunan at-Tirmidzi 2/286).
Jika seseorang tertimpa hal-hal yang buruk dan membuat hati cemas, anda dapati seorang yg lurus imannya memiliki hati yang kokoh, jiwa yang tenang, dan rela dengan taqdir Allah. Rasulullah bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya baik, dan itu tidak terjadi pada siapapun kecuali pada orang mukmin. Jika dia dikaruniai kesenangan lalu dia bersyukur, itu menjadi kebaikan baginya. Dan, jika dia ditimpa kesusahan lalu dia bersabar, itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim 4/2295 no 2999). Rasulullah telah mengabarkan bahwa seorang mukmin itu akan meraih keberuntungan, kebaikan dan buah amal yang berlipat ganda pada setiap ketentuan yang ia terima, baik berupa sesuatu yang dicintai maupun yang dibenci.
2. Memperbanyak dzikir kepada Allah
Dzikir memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dan memberikan ketentraman di dalam dada, serta menghilangkan kesedihan dan kegundahan. Sebagaimana firman Allah, “Ketahuilah, hanya dalam berdzikir kepada Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Dzikir yang dimaksud adalah dzikir yang diamalkan berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan dzikir yang dibuat-buat oleh orang-orang bodoh dan tidak tahu malu. Mereka berdzikir dengan tata cara yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Alangkah jeleknya yang mereka lakukan!!!
3. Berserah diri sepenuhnya kepada Allah
Apabila hati bersandar kepada Allah, berserah diri kepada-Nya, tidak tunduik kepada angan-angan dan dikuasai khayalan-khayalan buruk, serta percaya penuh kepada Allah dan mengharap karunia-Nya, maka dengan itu tertolaklah kesedihan dan kegundahan, sirna darinya berbagai macam penyakit jasmani maupun rohani, dan hati akan mendapatkan kekuatan, kelapangan dan kegembiraan. Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS ath-Thalaq: 3). Allah akan mencukupkan segala keinginannya (keperluannya), baik dalam urusan agama maupun dunianya. Orang yang bertawakal kepada Allah hatinya menjadi kuat dan tak terpengaruh dengan berbagai angan-angan buruk, dan tidak tergoyahkan dengan berbagai hal yang menimpanya.
Di samping itu, ia juga mengetahui bahwa Allah telah memberikan jaminan dengan kecukupan yang sempurna bagi orang yang bertawakal kepada-Nya, sehingga ia percaya kepada Allah dan tenang terhadap janji-Nya. Maka sirnalah duka dan kecemasannya, kesulitannya berganti kemudahan, kesedihannya berubah menjadi kegembiraan, dan rasa takutnya berbalik menjadi rasa aman.
4. Membandingkan kenikmatan yang masih ada dengan musibah yang menimpa
Apabila sesorang tertimpa sesuatu yang tidak disukai atau mengkhawatirkan terjadinya hal itu, hendaknya ia membandingkan antara nikmat-nikmat yang masih ada, baik nikmat dalam hal agama maupun dunia, dengan keburukan yang menimpanya. Ketika dibandingkan, akan tampak jelas banyaknya kenikmatan yang masih ia peroleh, dan akan sirna hal-hal buruk yang menimpanya.
5. Bersikap Qana’ah (merasa puas) terhadap pemberian Allah
Seorang muslim hendaklah merasa puas dengan apapun yang diberikan Allah kepadanya, baik itu fisik, harta, istri, anak, rumah, maupun kendaraan. Ketahuilah wahai Saudara-Saudariku, kekayaan bukanlah dengan berlimpahnya harta, tetapi kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa yang memiliki sikap qana’ah (merasa puas dengan apa yang ada), sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta. Sesungguhnya kekayaan itu tak lain adalah kekayaan jiwa.” (HR. al-Bukhari no 6446 dan Muslim no 1051). Rasulullah juga bersabda, “Sungguh beruntunglah orang yang masuk Islam, lalu dikaruniai rezeki secukupnya saja, tetapi Allah membuatnya merasa puas dengan apa yang Dia berikan.” (HR. Muslim no 1054 dan at-Tirmidzi dalam kitab az-Zuhd no 2349). Nilai seseorang sesungguhnya terletak pada ketakwaannya, manfaatnya bagi orang lain, dan akhlaknya yang luhur, bukan pada harta dan pangkatnya.
6. Jangan pedulikan berita bohong dan isu
Betapa seringnya isu memporak-porandakan kepercayaan diri, menceraiberaikan hati, dan meruntuhkan semangat, bahkan berujung menuduh macam-macam terhadap orang yang tidak berdosa, membuat orang yang semula aman menjadi ketakutan, orang yang semula senang menjadi sedih. Semua itu karena tidak dilakukan pembuktian kembali terhadap berbagai berita yang beredar, atau karena menerima begitu saja komentar dari orang-orang munafik.
PENUTUP
Demikianlah tulisan ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin, sehingga membantu mereka dalam menghindari dan menghilangkan kesedihan ataupun meringankan kesedihan yang mereka alami. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, sifat kikir dan pengecut, lilitan hutang, dan dikuasai orang lain.” Allahu a’lam.
Penulis:
Abu Aslam Benny al-Indunisy
Rujukan:
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Mujamma’ al Malik Fahd Li Thiba’at al Mush-haf asy Syarif Madinah Munawwarah, Kerajaan Saudi Arabia.
Jangan Bersedih Kiat Meraih Hidup Bahagia, ditulis oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, diterbitkan oleh Pustaka al-Minhaj.
Obat Penawar Hati yang Sedih, ditulis oleh Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah al-Utsaim, diterbitkan oleh Darus Sunnah.
http://dareliman.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=204&Itemid=1
Sesungguhnya di antara sunnatullah yang berlaku adalah kehidupan ini tidak selamanya berjalan dalam satu kondisi. Orang yang memperhatikan sejarah umat-umat terdahulu akan mengetahui bahwa sunnatullah ini tidak berhenti. Umat demi umat musnah, digantikan umat yang lain. Beberapa individu lahir dan yang lainnya meninggal. Kemenangan dan kekalahan, kemuliaan dan kehinaan, kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, kesehatan dan sakit, serta kesedihan dan kebahagiaan senantiasa bergulir silih berganti.
Rintangan dan kesusahan hidup ini begitu beragam, tidak terhitung banyaknya. Bahkan, setiap kali matahari terbit dan terbenam, manusia selalu berada dalam ujian dan cobaan, baik berupa hilangnya sesuatu yang dicintai maupun mengalami sesuatu yang tidak disukai. Oleh karena itu, kelapangan dan kebahagiaan hati serta sirnanya kesedihan dan kegundahan merupakan tujuan semua orang. Dengan itu kehidupan yang baik bisa diraih dan kegembiraan serta keceriaan menjadi sempurna.
HAKIKAT SEDIH
Pada hakikatnya, kesedihan adalah perasaan jiwa yang bersifat naluriah, berupa kecil hati dan hilangnya rasa senang dan gembira pada seseorang. (Demikian definisi sedih menurut sejumlah psikolog). Perasaan ini dialami setiap orang dari waktu ke waktu, tergantung sikap mental yang ada pada dirinya dan kesulitan hidup yang dialaminya. Perasaan ini dapat hilang dengan sendirinya atau manusia itu sendiri sanggup melawannya dengan cara yang tepat.
Sedih dan gembira adalah dua perasaan naluriah yang saling berlawanan, yang telah Allah ciptakan pada tabiat manusia. Salah satunya bisa meredup karena ditekan oleh yang lain. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman, “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43). Ikrimah Rahimahullah berkata, “Tidak seorangpun, kecuali mangalami senang dan sedih. Akan tetapi, buatlah kesenangan menjadi syukur dan kesedihan menjadi sabar.”
BAHAYA SEDIH
Tidak diragukan lagi bahwa kesedihan itu menimbulkan berbagai bahaya yang bisa mengancam individu dan masyarakat. Buktinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kesedihan. Do’a beliau adalah, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, sifat kikir dan pengecut, lilitan hutang, dan dikuasai orang lain.” (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Jihad, bab Man Ghaza bi Shabiy li al-Khidmah 3/1059 no. 2736).
Bahaya-bahaya yang timbul akibat kesedihan itu berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain. Hal tersebut dikarenakan di samping bergantung pada dahsyat-tidaknya musibah yang menimpa, dapat juga disebabkan kesiapan jiwa orang yang terkena musibah, atau bergantung pada kuat-lemahnya keimanan kepada taqdir Allah Ta’ala.
Adapun bahaya-bahaya kesedihan terhadap individu dan masyarakat di antaranya adalah:
a. Lesu dalam berpikir dan kurang konsentrasi terhadap sesuatu.
b. Padamnya kobaran semangat dalam jiwa, atau dengan kata lain runtuhnya semangat. Hal ini mengakibatkan orang yang sedang bersedih tidak bisa berpikir sehat dan tidak berbuat sesuatu yang bermanfaat, bahkan dapat menghambat segala kegiatannya.
c. Cepat merasa lelah, fisik lemah, dan terasa sakit di sekujur tubuh, terutama rasa nyeri di kepala dan semua persendian.
d. Meningkatkan detak jantung.
e. Meninggalkan perkara penting karena berpikir terus-menerus.
f. Terkadang kesedihan menyeret ke arah pesimis yang tiada hentinya, bahkan terkadang ke arah pesimis yang berlebihan.
g. Stres yang terkadang dapat mengantarkan kepada hilangnya ingatan.
h. Kesedihan terkadang menyeret seseorang untuk marah besar, yang dapat menyebabkan dia bertindak sewenang-wenang terhadap milik orang lain atau menyakiti tubuh mereka.
MENGHINDARI KESEDIHAN
Allah Ta’ala melarang Nabi-Nya untuk menyerah kepada kesedihan sebagaimana tercantum di beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya, “Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir.” (QS. Ali Imran: 176) dan juga firman Allah, “Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yunus: 65). Ayat-ayat lainnya adalah an-Nahl ayat 127, an-Naml ayat 70, Luqman ayat 23, dan Yasin ayat 76.
Allah Ta’ala juga melarang kaum mukminin bersedih hati, sebagaimana firman-Nya, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139).
Seorang muslim disyari’atkan untuk melakukan upaya-upaya yang dapat membantunya menghindari kesedihan. Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh seorang muslim agar terhindar dari kesedihan adalah:
1. Beriman dan beramal shalih
Sebab terbesar dan paling mendasar untuk menggapai kebahagiaan hidup adalah beriman dan beramal shalih. Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
Dalam ayat ini Allah Ta’ala memberitakan dan memberikan janji kepada orang yang menggabungkan antara iman dan amal shalih dengan kehidupan yang bahagia di dunia ini, serta diberi balasan yang baik di dunia maupun di akhirat. Orang-orang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, iman yang mampu membuahkan amal shalih yang memberikan perbaikan terhadap hati, akhlak, dunia, dan sekaligus akhirat, mereka memiliki dasar-dasar yang digunakan untuk menyikapi masalah yang datang kepada mereka yang akan menyebabkan mereka memperoleh kebahagiaan.
Ketika mereka mendapatkan sesuatu yang dicintai dan menyenangkan hati, mereka menerima dan mensyukurinya, serta menggunakannya dalam hal yang bermanfaat. Apabila mereka melakukan ini, maka muncul perasaan bahagia, amat menginginkan keberlangsungan dan keberkahan nikmat tersebut serta berharap pahala orang-orang yang bersyukur. Sungguh ini merupakan perkara-perkara yang amat besar, di mana kebaikan dan keberkahan yang merupakan buah amalnya itu, melebihi semua kesenangan (yang ia dapatkan).
Dan ketika mereka mendapati hal-hal yang buruk, mendatangkam madharat, kesedihan dan kegundahan, mereka berusaha dan meringankannya seringan mungkin, serta bersabar dengan kesabaran yang kuat ketika hal itu harus menimpa mereka. Dengan demikian, sungguh mereka akan memperoleh suatu imbal balik yang amat besar sebagai reaksi yang muncul ketika menghadapi perkara-perkara yang tidak disukai tersebut. Di antaranya, mendapatkan langkah penanggulangan yang bermanfaat sewaktu menghadapinya, melatih pengalaman, kekuatan dan kesabaran, serta mengharapkan pahala dan ganjaran. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya besarnya pahala diiringi besarnya cobaan. Dan, sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridha, maka Allah pun meridhainya, dan barangsiapa tidak ridha, maka Allah pun tidak meridhainya.” (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan, 4/159 nomor 2396, dan Ibnu majah 2/1338. Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam sunan at-Tirmidzi 2/286).
Jika seseorang tertimpa hal-hal yang buruk dan membuat hati cemas, anda dapati seorang yg lurus imannya memiliki hati yang kokoh, jiwa yang tenang, dan rela dengan taqdir Allah. Rasulullah bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya baik, dan itu tidak terjadi pada siapapun kecuali pada orang mukmin. Jika dia dikaruniai kesenangan lalu dia bersyukur, itu menjadi kebaikan baginya. Dan, jika dia ditimpa kesusahan lalu dia bersabar, itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim 4/2295 no 2999). Rasulullah telah mengabarkan bahwa seorang mukmin itu akan meraih keberuntungan, kebaikan dan buah amal yang berlipat ganda pada setiap ketentuan yang ia terima, baik berupa sesuatu yang dicintai maupun yang dibenci.
2. Memperbanyak dzikir kepada Allah
Dzikir memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dan memberikan ketentraman di dalam dada, serta menghilangkan kesedihan dan kegundahan. Sebagaimana firman Allah, “Ketahuilah, hanya dalam berdzikir kepada Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Dzikir yang dimaksud adalah dzikir yang diamalkan berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan dzikir yang dibuat-buat oleh orang-orang bodoh dan tidak tahu malu. Mereka berdzikir dengan tata cara yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Alangkah jeleknya yang mereka lakukan!!!
3. Berserah diri sepenuhnya kepada Allah
Apabila hati bersandar kepada Allah, berserah diri kepada-Nya, tidak tunduik kepada angan-angan dan dikuasai khayalan-khayalan buruk, serta percaya penuh kepada Allah dan mengharap karunia-Nya, maka dengan itu tertolaklah kesedihan dan kegundahan, sirna darinya berbagai macam penyakit jasmani maupun rohani, dan hati akan mendapatkan kekuatan, kelapangan dan kegembiraan. Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS ath-Thalaq: 3). Allah akan mencukupkan segala keinginannya (keperluannya), baik dalam urusan agama maupun dunianya. Orang yang bertawakal kepada Allah hatinya menjadi kuat dan tak terpengaruh dengan berbagai angan-angan buruk, dan tidak tergoyahkan dengan berbagai hal yang menimpanya.
Di samping itu, ia juga mengetahui bahwa Allah telah memberikan jaminan dengan kecukupan yang sempurna bagi orang yang bertawakal kepada-Nya, sehingga ia percaya kepada Allah dan tenang terhadap janji-Nya. Maka sirnalah duka dan kecemasannya, kesulitannya berganti kemudahan, kesedihannya berubah menjadi kegembiraan, dan rasa takutnya berbalik menjadi rasa aman.
4. Membandingkan kenikmatan yang masih ada dengan musibah yang menimpa
Apabila sesorang tertimpa sesuatu yang tidak disukai atau mengkhawatirkan terjadinya hal itu, hendaknya ia membandingkan antara nikmat-nikmat yang masih ada, baik nikmat dalam hal agama maupun dunia, dengan keburukan yang menimpanya. Ketika dibandingkan, akan tampak jelas banyaknya kenikmatan yang masih ia peroleh, dan akan sirna hal-hal buruk yang menimpanya.
5. Bersikap Qana’ah (merasa puas) terhadap pemberian Allah
Seorang muslim hendaklah merasa puas dengan apapun yang diberikan Allah kepadanya, baik itu fisik, harta, istri, anak, rumah, maupun kendaraan. Ketahuilah wahai Saudara-Saudariku, kekayaan bukanlah dengan berlimpahnya harta, tetapi kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa yang memiliki sikap qana’ah (merasa puas dengan apa yang ada), sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta. Sesungguhnya kekayaan itu tak lain adalah kekayaan jiwa.” (HR. al-Bukhari no 6446 dan Muslim no 1051). Rasulullah juga bersabda, “Sungguh beruntunglah orang yang masuk Islam, lalu dikaruniai rezeki secukupnya saja, tetapi Allah membuatnya merasa puas dengan apa yang Dia berikan.” (HR. Muslim no 1054 dan at-Tirmidzi dalam kitab az-Zuhd no 2349). Nilai seseorang sesungguhnya terletak pada ketakwaannya, manfaatnya bagi orang lain, dan akhlaknya yang luhur, bukan pada harta dan pangkatnya.
6. Jangan pedulikan berita bohong dan isu
Betapa seringnya isu memporak-porandakan kepercayaan diri, menceraiberaikan hati, dan meruntuhkan semangat, bahkan berujung menuduh macam-macam terhadap orang yang tidak berdosa, membuat orang yang semula aman menjadi ketakutan, orang yang semula senang menjadi sedih. Semua itu karena tidak dilakukan pembuktian kembali terhadap berbagai berita yang beredar, atau karena menerima begitu saja komentar dari orang-orang munafik.
PENUTUP
Demikianlah tulisan ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin, sehingga membantu mereka dalam menghindari dan menghilangkan kesedihan ataupun meringankan kesedihan yang mereka alami. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, sifat kikir dan pengecut, lilitan hutang, dan dikuasai orang lain.” Allahu a’lam.
Penulis:
Abu Aslam Benny al-Indunisy
Rujukan:
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Mujamma’ al Malik Fahd Li Thiba’at al Mush-haf asy Syarif Madinah Munawwarah, Kerajaan Saudi Arabia.
Jangan Bersedih Kiat Meraih Hidup Bahagia, ditulis oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, diterbitkan oleh Pustaka al-Minhaj.
Obat Penawar Hati yang Sedih, ditulis oleh Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah al-Utsaim, diterbitkan oleh Darus Sunnah.
http://dareliman.or.id/ind
Cinta dan Nikah (Obrolan Plato dan Socrates)
Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, Socrates, "Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?
Socrates menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta" .
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Socrates bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"
Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)". Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"
Socrates kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,"Apa itu pernikahan?Bagaimana saya bisa menemukannya?"
Socrates pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana.Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu pernikahan"
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar nan subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Socrates bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"
Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi pada kesempatan kali ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"
"Dan ya itulah pernikahan," tandas Socrates
Socrates menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta" .
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Socrates bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"
Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)". Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"
Socrates kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,"Apa itu pernikahan?Bagaimana saya bisa menemukannya?"
Socrates pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana.Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu pernikahan"
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar nan subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Socrates bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"
Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi pada kesempatan kali ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"
"Dan ya itulah pernikahan," tandas Socrates
TIDAK MUDAH MARAH
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam: "Berilah wasiat kepadaku". Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Janganlah engkau mudah marah". Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau : "Janganlah engkau mudah marah".
(HR. Bukhari)
Penjelasan :
Pengarang kitab Al Ifshah berkata : "Boleh jadi Nabi mengetahui laki-laki tersebut sering marah, sehingga nasihat ini ditujukan khusus kepadanya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memuji orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya ketika marah". Sabda beliau : "Bukanlah dikatakan orang yang kuat karena dapat membanting lawannya, tetapi orang yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya di waktu marah".
Allah juga memuji orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah dan suka memberi maaf kepada orang lain. Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : "Barang siapa menahan marahnya padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya"
Tersebut pada Hadits lain : "Marah itu dari setan".
Oleh karena itu, orang yang marah menyimpang dari keadaan normal, berkata yang bathil, berbuat yang tercela, menginginkan kedengkian, perseteruan dan perbuatan-perbuatan tercela. Semua itu adalah akibat dari rasa marah. Semoga Allah melindungi kita dari rasa marah. Tersebut pada Hadits Sulaiman bin Shard : "Sesungguhnya mengucapkan 'a'udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim' dapat menghilangkan rasa marah".
Karena sesungguhnya setanlah yang mendorong marah. Setiap orang yang menginginkan hal-hal yang terpuji, setan selalu membelokkannya dan menjauhkannya dari keridhaan Allah, maka mengucapkan "a'udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim" merupakan senjata yang paling kuat untuk menolak tipu daya setan ini.
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuhu,
SYARAH ARBA'IN AN NAWAWI
Judul Asli : Syarhul arba'iina Hadiitsan An Nawawiyah
Penulis : Ibnu Daqiqil 'Ied
Terjemah : Muhammad Thalib (Media Hidayah Yogyakarta)
(HR. Bukhari)
Penjelasan :
Pengarang kitab Al Ifshah berkata : "Boleh jadi Nabi mengetahui laki-laki tersebut sering marah, sehingga nasihat ini ditujukan khusus kepadanya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memuji orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya ketika marah". Sabda beliau : "Bukanlah dikatakan orang yang kuat karena dapat membanting lawannya, tetapi orang yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya di waktu marah".
Allah juga memuji orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah dan suka memberi maaf kepada orang lain. Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : "Barang siapa menahan marahnya padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya"
Tersebut pada Hadits lain : "Marah itu dari setan".
Oleh karena itu, orang yang marah menyimpang dari keadaan normal, berkata yang bathil, berbuat yang tercela, menginginkan kedengkian, perseteruan dan perbuatan-perbuatan tercela. Semua itu adalah akibat dari rasa marah. Semoga Allah melindungi kita dari rasa marah. Tersebut pada Hadits Sulaiman bin Shard : "Sesungguhnya mengucapkan 'a'udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim' dapat menghilangkan rasa marah".
Karena sesungguhnya setanlah yang mendorong marah. Setiap orang yang menginginkan hal-hal yang terpuji, setan selalu membelokkannya dan menjauhkannya dari keridhaan Allah, maka mengucapkan "a'udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim" merupakan senjata yang paling kuat untuk menolak tipu daya setan ini.
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuhu,
SYARAH ARBA'IN AN NAWAWI
Judul Asli : Syarhul arba'iina Hadiitsan An Nawawiyah
Penulis : Ibnu Daqiqil 'Ied
Terjemah : Muhammad Thalib (Media Hidayah Yogyakarta)
Langganan:
Postingan (Atom)
