Rabu, 06 Januari 2010

JANGAN BERSEDIH

Segala puji hanya bagi Allah yang memiliki seluruh pujian. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang disembah dengan benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau, keluarga dan para shahabat beliau.

Sesungguhnya di antara sunnatullah yang berlaku adalah kehidupan ini tidak selamanya berjalan dalam satu kondisi. Orang yang memperhatikan sejarah umat-umat terdahulu akan mengetahui bahwa sunnatullah ini tidak berhenti. Umat demi umat musnah, digantikan umat yang lain. Beberapa individu lahir dan yang lainnya meninggal. Kemenangan dan kekalahan, kemuliaan dan kehinaan, kekayaan dan kemiskinan, kelapangan dan kesempitan, kesehatan dan sakit, serta kesedihan dan kebahagiaan senantiasa bergulir silih berganti.

Rintangan dan kesusahan hidup ini begitu beragam, tidak terhitung banyaknya. Bahkan, setiap kali matahari terbit dan terbenam, manusia selalu berada dalam ujian dan cobaan, baik berupa hilangnya sesuatu yang dicintai maupun mengalami sesuatu yang tidak disukai. Oleh karena itu, kelapangan dan kebahagiaan hati serta sirnanya kesedihan dan kegundahan merupakan tujuan semua orang. Dengan itu kehidupan yang baik bisa diraih dan kegembiraan serta keceriaan menjadi sempurna.

HAKIKAT SEDIH

Pada hakikatnya, kesedihan adalah perasaan jiwa yang bersifat naluriah, berupa kecil hati dan hilangnya rasa senang dan gembira pada seseorang. (Demikian definisi sedih menurut sejumlah psikolog). Perasaan ini dialami setiap orang dari waktu ke waktu, tergantung sikap mental yang ada pada dirinya dan kesulitan hidup yang dialaminya. Perasaan ini dapat hilang dengan sendirinya atau manusia itu sendiri sanggup melawannya dengan cara yang tepat.

Sedih dan gembira adalah dua perasaan naluriah yang saling berlawanan, yang telah Allah ciptakan pada tabiat manusia. Salah satunya bisa meredup karena ditekan oleh yang lain. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman, “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43). Ikrimah Rahimahullah berkata, “Tidak seorangpun, kecuali mangalami senang dan sedih. Akan tetapi, buatlah kesenangan menjadi syukur dan kesedihan menjadi sabar.”

BAHAYA SEDIH

Tidak diragukan lagi bahwa kesedihan itu menimbulkan berbagai bahaya yang bisa mengancam individu dan masyarakat. Buktinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kesedihan. Do’a beliau adalah, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, sifat kikir dan pengecut, lilitan hutang, dan dikuasai orang lain.” (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Jihad, bab Man Ghaza bi Shabiy li al-Khidmah 3/1059 no. 2736).

Bahaya-bahaya yang timbul akibat kesedihan itu berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain. Hal tersebut dikarenakan di samping bergantung pada dahsyat-tidaknya musibah yang menimpa, dapat juga disebabkan kesiapan jiwa orang yang terkena musibah, atau bergantung pada kuat-lemahnya keimanan kepada taqdir Allah Ta’ala.

Adapun bahaya-bahaya kesedihan terhadap individu dan masyarakat di antaranya adalah:

a. Lesu dalam berpikir dan kurang konsentrasi terhadap sesuatu.

b. Padamnya kobaran semangat dalam jiwa, atau dengan kata lain runtuhnya semangat. Hal ini mengakibatkan orang yang sedang bersedih tidak bisa berpikir sehat dan tidak berbuat sesuatu yang bermanfaat, bahkan dapat menghambat segala kegiatannya.

c. Cepat merasa lelah, fisik lemah, dan terasa sakit di sekujur tubuh, terutama rasa nyeri di kepala dan semua persendian.

d. Meningkatkan detak jantung.

e. Meninggalkan perkara penting karena berpikir terus-menerus.

f. Terkadang kesedihan menyeret ke arah pesimis yang tiada hentinya, bahkan terkadang ke arah pesimis yang berlebihan.

g. Stres yang terkadang dapat mengantarkan kepada hilangnya ingatan.

h. Kesedihan terkadang menyeret seseorang untuk marah besar, yang dapat menyebabkan dia bertindak sewenang-wenang terhadap milik orang lain atau menyakiti tubuh mereka.

MENGHINDARI KESEDIHAN

Allah Ta’ala melarang Nabi-Nya untuk menyerah kepada kesedihan sebagaimana tercantum di beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya, “Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir.” (QS. Ali Imran: 176) dan juga firman Allah, “Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yunus: 65). Ayat-ayat lainnya adalah an-Nahl ayat 127, an-Naml ayat 70, Luqman ayat 23, dan Yasin ayat 76.

Allah Ta’ala juga melarang kaum mukminin bersedih hati, sebagaimana firman-Nya, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139).

Seorang muslim disyari’atkan untuk melakukan upaya-upaya yang dapat membantunya menghindari kesedihan. Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh seorang muslim agar terhindar dari kesedihan adalah:

1. Beriman dan beramal shalih

Sebab terbesar dan paling mendasar untuk menggapai kebahagiaan hidup adalah beriman dan beramal shalih. Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).

Dalam ayat ini Allah Ta’ala memberitakan dan memberikan janji kepada orang yang menggabungkan antara iman dan amal shalih dengan kehidupan yang bahagia di dunia ini, serta diberi balasan yang baik di dunia maupun di akhirat. Orang-orang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, iman yang mampu membuahkan amal shalih yang memberikan perbaikan terhadap hati, akhlak, dunia, dan sekaligus akhirat, mereka memiliki dasar-dasar yang digunakan untuk menyikapi masalah yang datang kepada mereka yang akan menyebabkan mereka memperoleh kebahagiaan.

Ketika mereka mendapatkan sesuatu yang dicintai dan menyenangkan hati, mereka menerima dan mensyukurinya, serta menggunakannya dalam hal yang bermanfaat. Apabila mereka melakukan ini, maka muncul perasaan bahagia, amat menginginkan keberlangsungan dan keberkahan nikmat tersebut serta berharap pahala orang-orang yang bersyukur. Sungguh ini merupakan perkara-perkara yang amat besar, di mana kebaikan dan keberkahan yang merupakan buah amalnya itu, melebihi semua kesenangan (yang ia dapatkan).

Dan ketika mereka mendapati hal-hal yang buruk, mendatangkam madharat, kesedihan dan kegundahan, mereka berusaha dan meringankannya seringan mungkin, serta bersabar dengan kesabaran yang kuat ketika hal itu harus menimpa mereka. Dengan demikian, sungguh mereka akan memperoleh suatu imbal balik yang amat besar sebagai reaksi yang muncul ketika menghadapi perkara-perkara yang tidak disukai tersebut. Di antaranya, mendapatkan langkah penanggulangan yang bermanfaat sewaktu menghadapinya, melatih pengalaman, kekuatan dan kesabaran, serta mengharapkan pahala dan ganjaran. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya besarnya pahala diiringi besarnya cobaan. Dan, sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridha, maka Allah pun meridhainya, dan barangsiapa tidak ridha, maka Allah pun tidak meridhainya.” (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan, 4/159 nomor 2396, dan Ibnu majah 2/1338. Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam sunan at-Tirmidzi 2/286).

Jika seseorang tertimpa hal-hal yang buruk dan membuat hati cemas, anda dapati seorang yg lurus imannya memiliki hati yang kokoh, jiwa yang tenang, dan rela dengan taqdir Allah. Rasulullah bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya baik, dan itu tidak terjadi pada siapapun kecuali pada orang mukmin. Jika dia dikaruniai kesenangan lalu dia bersyukur, itu menjadi kebaikan baginya. Dan, jika dia ditimpa kesusahan lalu dia bersabar, itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim 4/2295 no 2999). Rasulullah telah mengabarkan bahwa seorang mukmin itu akan meraih keberuntungan, kebaikan dan buah amal yang berlipat ganda pada setiap ketentuan yang ia terima, baik berupa sesuatu yang dicintai maupun yang dibenci.

2. Memperbanyak dzikir kepada Allah

Dzikir memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dan memberikan ketentraman di dalam dada, serta menghilangkan kesedihan dan kegundahan. Sebagaimana firman Allah, “Ketahuilah, hanya dalam berdzikir kepada Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Dzikir yang dimaksud adalah dzikir yang diamalkan berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan dzikir yang dibuat-buat oleh orang-orang bodoh dan tidak tahu malu. Mereka berdzikir dengan tata cara yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Alangkah jeleknya yang mereka lakukan!!!

3. Berserah diri sepenuhnya kepada Allah

Apabila hati bersandar kepada Allah, berserah diri kepada-Nya, tidak tunduik kepada angan-angan dan dikuasai khayalan-khayalan buruk, serta percaya penuh kepada Allah dan mengharap karunia-Nya, maka dengan itu tertolaklah kesedihan dan kegundahan, sirna darinya berbagai macam penyakit jasmani maupun rohani, dan hati akan mendapatkan kekuatan, kelapangan dan kegembiraan. Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS ath-Thalaq: 3). Allah akan mencukupkan segala keinginannya (keperluannya), baik dalam urusan agama maupun dunianya. Orang yang bertawakal kepada Allah hatinya menjadi kuat dan tak terpengaruh dengan berbagai angan-angan buruk, dan tidak tergoyahkan dengan berbagai hal yang menimpanya.

Di samping itu, ia juga mengetahui bahwa Allah telah memberikan jaminan dengan kecukupan yang sempurna bagi orang yang bertawakal kepada-Nya, sehingga ia percaya kepada Allah dan tenang terhadap janji-Nya. Maka sirnalah duka dan kecemasannya, kesulitannya berganti kemudahan, kesedihannya berubah menjadi kegembiraan, dan rasa takutnya berbalik menjadi rasa aman.

4. Membandingkan kenikmatan yang masih ada dengan musibah yang menimpa

Apabila sesorang tertimpa sesuatu yang tidak disukai atau mengkhawatirkan terjadinya hal itu, hendaknya ia membandingkan antara nikmat-nikmat yang masih ada, baik nikmat dalam hal agama maupun dunia, dengan keburukan yang menimpanya. Ketika dibandingkan, akan tampak jelas banyaknya kenikmatan yang masih ia peroleh, dan akan sirna hal-hal buruk yang menimpanya.

5. Bersikap Qana’ah (merasa puas) terhadap pemberian Allah

Seorang muslim hendaklah merasa puas dengan apapun yang diberikan Allah kepadanya, baik itu fisik, harta, istri, anak, rumah, maupun kendaraan. Ketahuilah wahai Saudara-Saudariku, kekayaan bukanlah dengan berlimpahnya harta, tetapi kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa yang memiliki sikap qana’ah (merasa puas dengan apa yang ada), sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta. Sesungguhnya kekayaan itu tak lain adalah kekayaan jiwa.” (HR. al-Bukhari no 6446 dan Muslim no 1051). Rasulullah juga bersabda, “Sungguh beruntunglah orang yang masuk Islam, lalu dikaruniai rezeki secukupnya saja, tetapi Allah membuatnya merasa puas dengan apa yang Dia berikan.” (HR. Muslim no 1054 dan at-Tirmidzi dalam kitab az-Zuhd no 2349). Nilai seseorang sesungguhnya terletak pada ketakwaannya, manfaatnya bagi orang lain, dan akhlaknya yang luhur, bukan pada harta dan pangkatnya.

6. Jangan pedulikan berita bohong dan isu

Betapa seringnya isu memporak-porandakan kepercayaan diri, menceraiberaikan hati, dan meruntuhkan semangat, bahkan berujung menuduh macam-macam terhadap orang yang tidak berdosa, membuat orang yang semula aman menjadi ketakutan, orang yang semula senang menjadi sedih. Semua itu karena tidak dilakukan pembuktian kembali terhadap berbagai berita yang beredar, atau karena menerima begitu saja komentar dari orang-orang munafik.

PENUTUP

Demikianlah tulisan ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin, sehingga membantu mereka dalam menghindari dan menghilangkan kesedihan ataupun meringankan kesedihan yang mereka alami. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, sifat kikir dan pengecut, lilitan hutang, dan dikuasai orang lain.” Allahu a’lam.





Penulis:

Abu Aslam Benny al-Indunisy



Rujukan:
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Mujamma’ al Malik Fahd Li Thiba’at al Mush-haf asy Syarif Madinah Munawwarah, Kerajaan Saudi Arabia.
Jangan Bersedih Kiat Meraih Hidup Bahagia, ditulis oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, diterbitkan oleh Pustaka al-Minhaj.
Obat Penawar Hati yang Sedih, ditulis oleh Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah al-Utsaim, diterbitkan oleh Darus Sunnah.

http://dareliman.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=204&Itemid=1

Cinta dan Nikah (Obrolan Plato dan Socrates)

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, Socrates, "Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?

Socrates menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta" .

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Socrates bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"

Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)". Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"

Socrates kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,"Apa itu pernikahan?Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Socrates pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana.Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu pernikahan"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar nan subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Socrates bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi pada kesempatan kali ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"

"Dan ya itulah pernikahan," tandas Socrates

TIDAK MUDAH MARAH

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam: "Berilah wasiat kepadaku". Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Janganlah engkau mudah marah". Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau : "Janganlah engkau mudah marah".

(HR. Bukhari)

Penjelasan :

Pengarang kitab Al Ifshah berkata : "Boleh jadi Nabi mengetahui laki-laki tersebut sering marah, sehingga nasihat ini ditujukan khusus kepadanya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memuji orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya ketika marah". Sabda beliau : "Bukanlah dikatakan orang yang kuat karena dapat membanting lawannya, tetapi orang yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya di waktu marah".

Allah juga memuji orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah dan suka memberi maaf kepada orang lain. Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : "Barang siapa menahan marahnya padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya"

Tersebut pada Hadits lain : "Marah itu dari setan".

Oleh karena itu, orang yang marah menyimpang dari keadaan normal, berkata yang bathil, berbuat yang tercela, menginginkan kedengkian, perseteruan dan perbuatan-perbuatan tercela. Semua itu adalah akibat dari rasa marah. Semoga Allah melindungi kita dari rasa marah. Tersebut pada Hadits Sulaiman bin Shard : "Sesungguhnya mengucapkan 'a'udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim' dapat menghilangkan rasa marah".
Karena sesungguhnya setanlah yang mendorong marah. Setiap orang yang menginginkan hal-hal yang terpuji, setan selalu membelokkannya dan menjauhkannya dari keridhaan Allah, maka mengucapkan "a'udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim" merupakan senjata yang paling kuat untuk menolak tipu daya setan ini.

Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuhu,




SYARAH ARBA'IN AN NAWAWI
Judul Asli : Syarhul arba'iina Hadiitsan An Nawawiyah

Penulis : Ibnu Daqiqil 'Ied
Terjemah : Muhammad Thalib (Media Hidayah Yogyakarta)

akhlaq- sholawat atas nabi

Oleh KH. Rahmat Abdullah
Apa yang Tuan pikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak ada seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta'dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan adzan.
Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktrur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.
Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya menjadi manja dan hilang kemandirian. Saat bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan: "Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri kamu biarkan dia dan apabila yang mencuri itu rakyat jelata mereka tegakkan hukum atas-nya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya."
Hari-harinya penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk -- lebih dari satu dua kali -- berlomba jalan dengan Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah binti Abu Bakar Ash- Shiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Ash-Shiddiq, sesuai dengan namanya "si Benar".
Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para shahabat atau keluarganya memanggil ia menjawab: "Labbaik". Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di luar rumah, namun tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai "orang rumah".
Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia. "Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku." "Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina," demikian pesannya.
Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau di panglimai shahabatnya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Qur'an, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua pertempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.
Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya selalu bernilai sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tiba-tiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para shahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka: "Jangan. Biarkan ia menyelesaikan hajatnya." Sang Badui terkagum. Ia mengangkat tangannya, "Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami." Dengan senyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah.
Ia kerap bercengkerama dengan para shahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka; yang merdeka, budak laki- laki atau budak perempuan, serta kamu miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit di ujung Madinah. Ia terima permohonan ma'af orang. Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum shahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah shahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh. Ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia sholat, ia cepat selesaikan sholatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.
Ummul Mukminin Aisyah Ra. Berkata : "Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang dimakan makhluk hidup, selain setengah ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum." Sungguh ia berangkat haji dengan kendaraan yang sangat sederhana dan pakaian tak lebih dari 4 dirham, seraya berkata,"Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sum'ah."
Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan. Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucapkan shalawat atasnya: "Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat do'a yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk ummatku kelak di padang Mahsyar nanti."

agar hubbie makin cinta..(copass dr mb ARA)

aku bukan perempuan yang cantik jelita seperti ratu balqis, bukan pula wanita kaya raya seperti ummahatul mu’minin Khadijah

“Sayang, I love you!” Hari ini entah sudah untuk yang keberapa kalinya suamiku membisikan kata itu dengan lembut tidak saja langsung bibirnya menempel di telingaku, tetapi juga melalui SMS ketika dia sudah di kantor. Biasanya akupun langsung membalasnya, I love you too, mas. Terima kasih telah menjadi suamiku.”

Aku menyadari, aku memiliki beberapa kelebihan, tetapi sesungguhnya kekuranganku jauh melebih kelebihan yang aku punya. Aku bukan perempuan yang cantik jelita seperti ratu balqis, bukan pula wanita kaya raya seperti ummahatul mu’minin Khadijah. Walaupun tidak buta, tetapi pemahamanku terhadap Islampun masih perlu perbaikan.Tak banyak yang istimewa yang aku punya, makanya aku sangat bersyukur sekali Allah menghadirkan seseorang yang Allah halalkan tidak saja hatinya tetapi juga fisiknya padaku. Walaupun aku hanyalah perempuan biasa, Allah memberiku seorang laki-laki yang sholeh, baik, rendah hati dan amat sangat sayang padaku.

Ibuku pernah berpesan, ada empat perkara yang harus kita perhatikan agar tercipta syurga dunia dalam rumah tangga. Sebagai seorang istri kita memang dituntut untuk memaksimalkan kemampuan agar indah dipandang mata, sejuk dilihat, tenang ditinggal, membangkitkan gairah, dan menumbuhkan ketaatan suami kepada Allah. Disamping menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anak kita.

Pertama, mampu memberikan kepuasan di tempat tidur. Tempat tidur adalah ruang yang paling privacy antara kita dan suami. Disanalah biasanya suami mengurai keletihan setelah bekerja seharian. Tempat tidur juga merupakan tempat dimana biasanya suami istri menunaikan hajat seksualnya. Untuk itu istri di tuntut untuk menata tempat tidur dengan baik, bersih dan harum. Istri perlu memahami kebutuhan seksual suami, memenuhi ajakan bersetubuh dengan segera, memberikan kepuasan maksimal dalam bersetubuh, jika perlu tidak ada salahnya istri menawarkan diri.

Kedua, menciptakan keindahan di dalam rumah, menatanya dengan penuh artistik, serta menjaga harta yang ada di dalamnya. Rumah yang besar belum tentu menciptakan ketenangan dan kedamaian. Perabotan yang banyak lagi mahal tidak juga bisa membuktikan penghuninya adalah pasangan yang berbahagia. Keindahan di sini adalah keindahan yang terpancar dari tangan lembut dan keikhlasan penatanya, yaitu istri yang sholehah, qonaah, tawadhu, dan rendah hati.

Ketiga, mendidik dan menjaga anak-anak. Anak-anak adalah amanah, anak-anak adalah investasi, anak-anak merupakan hiburan bagi kita. Anak-anak yang bersih, sehat, cerdas adalah dambaan orang tuanya. Menjadikan anak-anak kita sholeh, cerdas, sehat dan bersih membuktikan keberhasilan kita mendidik mereka. Suami akan bekerja lebih giat untuk mencari nafkah jika melihat anak-anak dalam kondisi seperti ini.

Keempat, saling memaafkan. Suami istri berasal dari dua keluarga yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, adat-istiadat yang berbeda, sifat yang berbeda. Keduanya bukanlah makhluk yang sempurna yang tak pernah salah. Keduanya sama-sama memiliki kekurangan. Meminta maaf terlebih dahulu jika memiliki salah dan segera memaafkan suami serta tidak mengungkit-ungkit lagi kesalahan yang pernah ada akan menautkan lagi kemesraan kita berdua.

Seorang suami tidak akan memikirkan perempuan lain jika istri mampu menampilkan semua ini dihadapanya. Memberikan kebahagiaan lahir batin, menciptakan suasana segar, serta istri yang menentramkan jiwa. Tak akan pula ada percekcokan, sakit hati atau penyesalan telah mengikat janji berdua dihadapan Allah aza wajalla. Yang ada adalah ungapan sayang, kata-kata mesra, cinta yang selalu berbunga, mudah-mudahan berkah Allah selalu melingkupinya

DIRIKU DALAM FIKIRANKU

Pada Malam Dengan Keheningan dan Gelapnya
Dalam butiran cahaya bintang yang bertaburan
Kurenungi hakikat penciptaanku sebagai makluk bumi
Kucurahkan semua rasio ku tuk berfikir.....

Betapa kecilnya diriku ini.....
Seseorang diantara taburan manusia yang perpijak pada bumi
Betapa kecilnya bumi ini.....
Sebuah planet diantara taburan bintang dan galaksi

Betapa besarnya alam semesta ini......
Luas dan masih tak terjelajahi dengan teknologi masa kini
Betapa maha besarnya pencipta alam semesta ini.....
yang telah mencipta dengan keindahan dan harmoni

Pada Siang Dengan Keriuhan dan Terangnya
Dalam hiruk-pikuk aktifitas penduduk bumi
Kurenungi hakikat penciptaanku sebagai manusia
Kucurahkan semua rasio ku tuk memahami.....

Ku terlahir di dunia sebagai seorang bayi
Dalam asuhan dan bimbingan orang tua
Untuk belajar menjadi Khalifah di muka bumi
Dan beribadah kepada ALLAH yang maha ESA

Menjalani takdir ALLAH berupa Ujian dan Cobaan di dunia
Dibekali dengan Nafsu dan Akal Fikiran
Dituntun dengan kitab Alquran
Serta Alhadist melalui Rasul-NYA

Senang, susah, sedih, gembira
Menangis, tertawa, termenung, ceria
Pasrah, khawatir, ikhlas, kecewa
Resah, tenang, derita, bahagia

Dinamika kehidupan dalam pasangan rasa
Tertahta dalam hati sebagai nuansa
terwujud dalam tindakan dan aksi
dalam diri seorang pribadi

Kebaikan....akan dibalas dengan kebaikan
Kejahatan...akan dibalas dengan kejahatan
Itulah hukum yang berlaku bagi manusia di dunia ini
yang tak bisa terlepas dari aksi-reaksi

Episode bergulir seperti sebuah roda putar
Kadang diatas...kadang dibawah
Mencari puzzle hikmah dalam tempaan kehidupan dunia
Berharap ridho dari Allah Sang Pencipta

Puji, caci, cinta, benci
Jujur, dusta, sayang, dengki
Benar, Fitnah, rela, iri
Jumpa, pisah, datang, pergi

Dinamika kehidupan dalam pasangan aksi
Terjadi dalam kehidupan sehari-hari
Tindakan ditabur saat ini
Balasan dituai di hari nanti

Kebaikan.... akan mendatangkan pahala
kejahatan....akan mendatangkan dosa
Itulah balasan bagi tindakan manusia
Dari Allah yang Maha Kuasa

Episode bergulir seperti sebuah roda putar
Kadang mendapat pahala...kadang berbuat dosa
Mengumpulkan amal dalam tempaan berinteraksi dengan sesama
Berharap karunia dari Allah yang Maha Pencipta

Terus ditempa di dunia...sampai ajal tiba...
Lalu menunggu di alam kubur... hingga kiamat tiba...
Diakherat dihitung amal perbuatannya
bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya

beda laki2 & wanita (copass dr m VR)

Tanya: Orang banyak mendebatkan tentang laki-laki dan perempuan, apa sebenarnya perbedaan pokok antara keduanya?

Bawa Muhaiyaddeen: Keduanya dibentuk dari lima elemen yang sama. Konsep laki-laki dan perempuan adalah konsep tentang tubuh, jasad. Sang Seniman yang mencipta laki-laki dan perempuan memang ‘mendekorasinya’ dengan cara berbeda. Tubuh adalah sebuah cangkang, rumah bagi masing-masing untuk ditempati. Namun engkau terlena oleh dekorasinya.

Jika engkau perhatikan baik-baik, perempuan bersifat lemah lembut. Pada ‘dekorasi’ ini terdapat keindahan bak emas berlian, kecantikan yang menarik. Energi di wajah dan tubuh-tubuh mereka seperti magnet. Laki-laki juga memiliki energi yang sama, tapi energi itu terletak di dalam. Walau laki-laki tak punya kelemahlembutan-luar seperti perempuan, mereka memiliki energi magnetik-dalam yang tertarik dan terhubung dengan magnetik-luar di wajah dan wujud seorang perempuan.

Dunia membincangkan laki-laki dan perempuan, tapi jika engkau merenungkannya dengan bijaksana, engkau akan paham bahwa laki-laki dan perempuan adalah seperti dua nafas, seperti matahari dan bulan. Kedua nafas itu adalah panas matahari, yakni laki-laki, dan sejuknya rembulan, perempuan.

Di langit lepas, rembulan tampak lebih rendah dan matahari terletak lebih tinggi. Rembulan mengambil cahaya mentari dan melepaskannya sebagai sinar kuning yang sejuk di malam hari.

Namun cahaya yang asali haruslah dimengerti benar. Kekuatan ini, yang bukan laki-laki atau perempuan, adalah cahaya, dan titik itulah yang musti diraih baik oleh laki-laki maupun perempuan. Engkau akan mampu memahaminya melalui permisalan matahari dan bulan di langit, melalui permisalan laki-laki dan perempuan di bumi.

Pemahamanmu akan mengerucut dalam dua kata: la ilaha, tak ada sesuatu pun selain Engkau — yakni nafas keluar, di sisi kiri; illallahu, Engkaulah Allah — yakni nafas masuk, di sisi kanan. Kedua nafas ini bertemu pada Allah.

Dengan cara yang sama, jiwa yang muncul dari Tuhan haruslah kembali ke asalnya. Engkau musti kembali kepada-Nya dengan wujud yang sama dengan wujud ketika engkau datang dari-Nya. Hanya dalam keadaan demikian, Tuhan akan menerimamu.

Kelima bagian yakni tanah, api, air, udara dan eter tak kan sanggup mencapai-Nya; mereka adalah milik dunia. Jangan terikat dan tertipu oleh mereka, menganggap mereka laki-laki dan perempuan. Tepis mereka dan ucapkan la ilaha di sebelah kiri, dan illallahu di sebelah kanan. Tak ada apapun kecuali Tuhan. Jika tak ada selain Itu, maka tak akan ada laki-laki dan perempuan. Bila tak ada laki-laki dan perempuan, maka yang ada hanyalah cahaya. Ini ajaran ilahiah..

Jika Tuhan sebagai kekuatan dan engkau menjadi cahaya, maka kekuatan itu adalah laki-laki dan engkau adalah perempuan. Raihlah kekuatan itu. Segala apa yang engkau lihat dan ingini akan berubah. Segala yang engkau lihat dalam wujud atau tanpa wujud akan berubah. Kekuatan yang tak berganti adalah laki-laki satu-satunya. Tuhan-lah kekuatan itu, dan engkau sinarnya. Bila laki-laki dan perempuan ini bersatu, jadilah ia gnanam, kerlingan cahaya dan keutuhan, Nur dan Allah, insan kamil dan kebijaksanaan.

Baik sifat laki-laki maupun perempuan hadir di dalam tubuh ini. Sifat laki-laki adalah sombong, kuat, egois, dan fanatik. Sementara kerendah-hatian, penghormatan, pengabdian kepada Tuhan, keindahan, dan kasih sayang adalah sifat-sifat perempuan. Sifat kesombongan laki-laki cenderung ingin menundukkan dan mengungguli sifat keindahan perempuan.

Jika seorang laki-laki menundukkan sifat-sifat keegoannya, jika ia menghargai sifat-sifat keperempuanan dan berperilaku seperti seorang perempuan terhadap Tuhan-nya, ia akan mampu membangun sebuah keterhubungan dengan Tuhan.

Jika laki-laki memiliki sifat-sifat perempuan, keselamatan dan ketenangan perempuan, maka seperti halnya kecantikan perempuan, keindahan Tuhan pun akan menyelimutinya. Sifat laki-laki adalah sifat-sifat seekor singa jantan, sifat binatang buas. Bila sang singa jantan menjadi sosok yang indah dan lembut, maka tak kan ada lagi laki-laki dan perempuan. Ia akan memperoleh keindahan sifat-sifat Tuhan. Sifat-sifat itu akan mencintai Tuhan-nya, meraih cahaya-Nya, terhiasi oleh keindahan-Nya.

[] Diterjemahkan dari The Golden Words of a Sufi Sheikh karya Bawa Muhaiyaddeen.